Indeks NTP Turun, Daya Beli Petani Bali ”Melorot”

TELUR - Penurunan harga telur ayam beri andil pada NTP Bali.

Indeks nilai tukar petani (NTP) Provinsi Bali tercatat turun -0,46 persen pada Oktober 2019, atau dari 104,14  pada September 2019 menjadi 103,66. Dari sisi indeks yang diterima petani (It) tercatat turun -0,28 persen, sedangkan indeks yang dibayar petani (Ib) tercatat meningkat 0,18 persen. Subsektor apa saja yang menyumbang penurunan indeks NTP di Pulau Dewata pada Oktober 2019?

NTP atau farmers  term  of  trade merupakan  salah  satu  indikator  proksi  untuk melihat  tingkat  kemampuan atau daya  beli  petani  di  perdesaan.  NTP  juga  menunjukkan  daya  tukar (term  of  trade)  dari  produk  pertanian  terhadap barang  dan jasa  yang  diperlukan  petani untuk biaya produksi  usaha  pertanian  maupun  untuk  konsumsi rumah  tangganya.

Kepala BPS Bali, Adi Nugroho mengungkapkan, NTP diperoleh  dari  perbandingan  antara  It  dengan  Ib.  Artinya, makin  tinggi  indeks  NTP,  secara  relatif  mencerminkan  makin kuat  pula  peranannya  pada  ukuran  tingkat  kemampuan atau daya  beli  petani.

“Oktober  2019,  indeks  NTP  Provinsi  Bali  tercatat  mengalami  penurunan.  Kondisi itu disebabkan  oleh  turunnya  It,  sedangkan  indeks  Ib mengalami  kenaikan pada periode tersebut,” tuturnya.

Jelas Adi, It tercatat  136,84  atau  turun  -0,28  persen  dibandingkan  September  2019  yang mencapai  137,23, sedangkan  Ib tercatat  mengalami  kenaikan 0,18  persen  dari  131,77  di  September  2019  menjadi  132,01. Menurut subsektornya, Oktober 2019 penurunan indeks NTP tercatat pada dua subsektor yakni, pada subsektor tanaman perkebunan rakyat -2,03 persen, disusul subsektor peternakan -0,97 persen.

“Sebaliknya pada periode sama subsektor tanaman pangan mengalami kenaikan 0,95 persen, disusul subsektor perikanan dan hortikultura, masing-masing 0,48 persen dan 0,25 persen,” ujarnya.

Paparnya, pada subsektor  tanaman  perkebunan  rakyat, indeks  NTP  subsektor tercatat  kembali  mengalami  penurunan hingga  -2,03  persen  dari  94,25  menjadi  92,34.  Hal  itu terjadi  karena  It  tercatat  mengalami  penurunan  -1,85  persen,  sedangkan  Ib  tercatat mengalami  kenaikan  0,19  persen.

Penurunan  pada  It pada subsektor  tanaman  perkebunan  rakyat dipicu  oleh  turunnya  rata-rata  harga komoditas  hasil  perkebunan  rakyat yakni, kopi,  cengkeh,  dan  kakao.  Di  sisi  lain,  kenaikan  Ib disebabkan  oleh  naiknya  indeks  konsumsi  rumah  tangga  setinggi  0,25  persen,  meskipun  terjadi penurunan  pada  indeks  biaya  produksi  dan  penambahan  barang  modal (BPPBM)  yang  tercatat  turun  sedalam  -0,02  persen.

Sambungnya, pada subsektor  peternakan  terdiri  atas  ternak  besar,  ternak  kecil,  unggas,  dan  hasil  ternak yang mengalami penurunan -0,97  persen,  dari  115,27  menjadi  114,15.  Penurunan  tersebut  disebabkan  oleh  It  yang tercatat  menurun  -0,77  persen,  sedangkan  Ib  tercatat  mengalami  kenaikan  0,21 persen.

Terangnya, penurunan  yang  tercatat  pada  It  disumbang  oleh  turunnya  rata-rata  harga  pada  seluruh kelompok.  Kelompok  ternak  kecil  tercatat  mengalami  penurunan  paling  dalam,  yaitu  mencapai -1,52  persen,  disusul  kelompok  hasil  ternak  yang  turun  -0,80  persen,  kelompok  unggas turun  -0,69  persen  dan  kelompok  ternak  besar  yang  juga  turun  -0,52  persen.

“Sejumlah komoditas  yang  tercatat  mengalami  penurunan,  yaitu  telur  ayam  ras,  babi,  sapi  potong,  kambing, dan bebek.  Sementara,  kenaikan  yang  tercatat  pada  Ib  disumbang  oleh  naiknya  indeks BPPBM dan indeks  KRT masing-masing  tercatat  naik  0,23  persen  dan  0,19  persen,” ujarnya.

Sementara itu,  penurunan NTP Bali pada Oktober  2019, sekaligus memposisikan kondisi NTP di Pulau Dewata berada di bawah nasional. Itu tercermin dari indeks NTP  gabungan secara nasional tercatat  104,04 atau naik  0,16  persen  dibandingkan  dengan  bulan  sebelumnya.  Kenaikan  tersebut  dipengaruhi  oleh  It  nasional  yang  naik  0,23  persen,  sedangkan  Ib  mengalami  kenaikan  yang  lebih  dangkal  tercatat  naik 0,07  persen. *man

BAGIKAN