FGD Tindak Lanjut Rakornas TPID 2019 Kabupaten Badung

Focus Group Discusion (FGD) sebagai tindak lanjut dari high level meeting (HLM) yang dilaksanakan bulan lalu bahwa Badung sampai saat ini sudah mampu secara stabil untuk menekan angka inflasi dan diharapkan secara stabil bisa terus dipertahankan.

22
Wabup Suiasa disaat menghadiri sekaligus membuka FGD tindak lanjut Rakornas TPID di Ruang Rapat Nayaka Gosana III Sekretariat Daerah Kabupaten Badung, Rabu (13/11).

Wabup Suiasa: TPID di Badung Mampu Tekan Inflasi

Mangupura (bisnisbali.com) –Focus Group Discusion (FGD) sebagai tindak lanjut dari high level meeting (HLM) yang dilaksanakan bulan lalu bahwa Badung sampai saat ini sudah mampu secara stabil untuk menekan angka inflasi dan diharapkan secara stabil bisa terus dipertahankan. Demikian disampaikan Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa disaat menghadiri sekaligus membuka FGD tindak lanjut Rakornas TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) tahun 2019. FGD dengan topik bahasan “Sinergi dan Inovasi Dalam Mendukung Ketersediaan Pasokan dan Kelancaran Distribusi Pangan di Kabupaten Badung”, mengagendakan paparan perkembangan harga dan inflasi yang dibawakan oleh Kepala BPS Kabupaten Badung Ni Putu Minarni di Ruang Rapat Nayaka Gosana III Sekretariat Daerah Kabupaten Badung, Rabu (13/11).

Lebih lanjut Wabup Suiasa mengatakan, permasalahan kepastian pasokan pangan harus disiapkan termasuk pendistribusiannya serta inflasi di daerah dapat ditekan semaksimal mungkin. Untuk penanganan ini konsep di Badung harus disinergikan dengan Pemerintah Provinsi Bali. Dikatakan, di Badung sudah melakukan langkah-langkah yang sangat strategis, namun kebijakan apa pun yang dilakukan secara pragmatis, sebaik apa pun serta sebesar apa pun anggaran tidak akan mempunyai dampak yang cukup besar dan luas, karena di dalam inflasi di Badung tidak ditentukan oleh Badung saja, tetapi ditentukan oleh pihak lain. Untuk itulah perlu dibangun sinergi yang menyangkut berbagai aspek, dari segi sektor, dari langkah dan upayanya, sinergi dari penanganannya dan sinergi dalam hal menentukan penilaian. “Sektor-sektor dan bidang bidang apa yang bisa disinergikan dan cara penanganan apa yang bisa disinergikan, langkah dan evaluasi apa yang bisa disinergikan dan itu akan lebih efektif jika ada inovasi atau cara yang kita lakukan didalam membangun sinergi tersebut,” jelas Wabup Suiasa.

Sementara itu Kabag Perekonomian Setda Badung AA Sagung Rosyawati melaporkan, dari identifikasi masalah terdapat sembilan komoditas pangan yang harganya sering berfluktuasi dan sebagai komoditas penyumbang inflasi yaitu beras, daging ayam ras, telur ayam ras, daging babi, daging sapi, bawang merah, cabai rawit, cabai besar dan ikan tongkol. Sedangkan melalui perangkat daerah terkait telah dilakukan upaya-upaya untuk menjaga ketersediaan pasokan komoditas seperti upaya meningkatkan produksi beras, cabai dan bawang merah, upaya peningkatan produksi telur ayam ras melalui pengembangan ayam petelur yang merupakan kerjasama antara Pemkab Badung dengan kelompok ternak Giri Landuh Sari di Desa Pelaga dan kelompok ternak Manuk Sari di Desa Getasan Petang. Upaya peningkatan produksi daging ayam melalui pengembangan klaster ayam pedaging yang merupakan kerja sama Pemkab Badung dengan kelompok ternak Jaya Mandiri Perkasa Desa Taman Abiansemal dan Kantor Perwakilan BI Bali. Upaya peningkatan produksi daging sapi melalui pembibitan sapi di sentra ternak sapi Sobangan, budi daya sapi melalui kelompok-kelompok ternak sapi (Simantri, Tanimas dan Sentra Peternakan Rakyat/PSR) dan pengelolaan RPH Mambal. Upaya peningkatan produksi daging babi dengan memberikan bantuan bibit babi kepada kelompok ternak dan upaya peningkatan produksi ikan dengan memberikan bantuan sarana dan prasarana penangkapan ikan kepada kelompok nelayan yang sudah dikembangkan memalui inovasi aplikasi FishGo.

Dikatakan, pengadaan alat CAS yang dikelola oleh Perumda Pasar Mangu Giri Sedana  sebagai upaya untuk dapat melakukan penyimpanan komoditas cabai dan bawang merah dalam jangka waktu yang lebih lama sehingga ketersediaan komoditas tersebut menjadi stabil. Walaupun sudah dilakukan berbagai upaya, pada bulan-bulan tertentu komoditas mengalami fluktuasi harga. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal yakni tingginya alih fungsi lahan, pengaruh cuaca, masih tingginya ketergantungan pasokan bahan pangan dari luar, pengelolaan alat CAS belum optimal.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Plt. Kadis Pertanian dan Pangan I Ketut Sudarsana, Perwakilan Kepala Bank Indonesia Provinsi Bali, Perwakilan Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan Provinsi Bali, Perwakilan Kepala OPD Kabupaten Badung, Kepala Gudang Perum Bulog Badung, Dirut Perumda Pasar Mangu Giri Sedana Kab. Badung, Ketua Kadin Badung dan Perwakilan Kepala Bagian Perekonomian Setda Tabanan dan Bangli. *adv

BAGIKAN