Abon Jambu Mete, Olahan Inovasi Desa Tembok Buleleng 

Wilayah paling timur Kabupaten Buleleng yakni Desa Tembok Kecamatan Tejakula Buleleng ternyata memiliki banyak potensi yang belum terjamah maksimal, salah satunya tanaman jambu mete.

43
Abon jambu mete yang diolah oleh Perbekel Desa Tembok.

Singaraja (bisnisbali.com) – Wilayah paling timur Kabupaten Buleleng yakni Desa Tembok Kecamatan Tejakula Buleleng ternyata memiliki banyak potensi yang belum terjamah maksimal, salah satunya tanaman jambu mete. Di kawasan ini terdapat banyak sekali tanaman mete tumbuh secara bebas yang berada di lahan milik warga.

Namun selama ini pemanfaatan buah jambu mete baru terbatas pada bijinya yang diolah menjadi kacang mete. Sementara buahnya kurang dimanfaatkan karena citarasa yang kurang disukai seperti rasanya yang sepat dan sering membuat gatal tenggorokan.
Akan tetapi di tangan seorang Dewa Komang Yudi Astara yang merupakan Kepala Desa Tembok, buah jambu mete ini  disulapnya menjadi abon. Ilmu ini pun kini mulai ditularkan di masyarakat, sebagai bentuk olahan inovasi baru dari jambu mete selain bijinya.

Dijelaskan Dewa Komang Yudi, inspirasi membuat abon ini karena selama ini ia melihat daging jambu mete yang sudah matang dan diambil kacangnya ini belum dimanfaatkan secara maksimal hanya jadi pakan ternak sapi bahkan ada yang terbuang. Oleh karena itu berbekal resep yang ia coba cari di internet, ia akhirnya mencoba mengeksekusi daging jambu mete menjadi abon.
Untuk bumbu dan cara mengolahnya tidaklah jauh berbeda dari mengolah abon daging pada umumnya. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah kandungan air pada daging jambu mete. Sebelum dicampur dengan bumbu, mete terlebih dahulu direndam beberapa menit menggunakan air hangat agar tekstur jambu mete tidak keras. Setelah itu jambu mete ditiriskan kemudian daging jambu mete diperas untuk mengurangi kandungam air di dalamnya.
Setelah diperas, jambu mete kembali direndam menggunakan air hangat, ditiriskan kembali barulah jambu mete bisa disuwir tipis agar daging jambu mete mudah diolah. “Jadi prosesnya tidak sulit, tinggal menambahkan bumbu dan santan agar terasa gurih kemudian siap digoreng sampai benar – benar kering,” jelasnya.
Agar abon mete tetap  renyah, ia menggunakan alat khusus untuk mengurangi kandungan minyak pada abon. Setelah itu abon siap dikemas dan dipasarkan. “Sebenarnya abon mete ini dahulu merupakan salah satu makanan masyarakat di sini, namun seiring waktu masyarakat sudah jarang ada yang mau mengolahnya,” tuturnya.
Sejauh ini, inovasi pengolahan daging jambu mete ini akan dikembangkan di masyarakat.  Khususnya ketika memasuki musim jambu mete, sehingga tidak lagi terbuang sia-sia. Rencananya abon ini akan dikemas khusus agar memiliki tampilan yang menarik.
“Sejauh ini pemanfaatan buah mete sebatas bijinya saja, sekarang bagaimana mengolah dagingnya agar mampu menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat,” terangnya. *ira

BAGIKAN