Penanganan Penyakit tak Menular Terganjal Fasilitas

Tantangan penanganan penyakit tidak menular di Indonesia masih cukup kompleks.

12
Asisten Menteri Kesehatan RI dr. Mohamad Subuh, MPPM (tiga dari kanan) saat menghadiri The 6th InaHEA Annual Scientific Meeting di BNDCC, Nusa Dua.

Mangupura (bisnisbali.com) –Tantangan penanganan penyakit tidak menular di Indonesia masih cukup kompleks. Banyak jenis penyakit menular yang belum bisa didanai oleh pemerintah karena terbentur masalah fasilitas yang belum tersedia. Demikian disampaikan Ketua Asosiasi Ekonomi Kesehatan Indonesia (InaHEA), Prof. Hasbullah Thabrany pada The 6th InaHEA Annual Scientific Meeting di BNDCC, Nusa Dua, Rabu (6/11).

Dikatakan, permasalahan fasilitas penanganan penyakit tidak menular umumnya terjadi di daerah pedalaman. “Saya kira di Bali juga ada daerah pedalaman, misalnya di Karangasem, di sana belum tersedia dokter spesialis jantung. Kalau ke Denpasar butuh waktu sekitar 2-3 jam. Untuk itu dibutuhkan tenaga dan fasilitas yang cukup. Inilah tantangannya karena masih banyak yang belum mendapat akses, apalagi di daerah Papua dan Kalimantan,” ujar Hasbullah.

Pertemuan yang berlangsung hingga 8 November 2019 ini bertujuan untuk memahami tantangan dan biaya penanganan penyakit tidak menular di Indonesia, memahami arus dan proyeksi beban pada perawatan penyakit tidak menular, berbagi informasi untuk meningkatkan praktik kebijakan kesehatan di tingkat lokal dan nasional, bertukar informasi tentang topik penyakit tidak menular lintas negara dengan perspektif yang sama, mendapatkan wawasan dari akademisi terkemuka dan para sarjana, terutama ekonom kesehatan dan ahli ekonometrika dari negara lain tentang cara menghadapi tantangan penyakit tidak menular, serta menjembatani informasi tentang penelitian saat ini dan kebijakan ke dalam rencana aksi nasional untuk memerangi penyakit tidak menular.

Asisten Menteri Kesehatan RI dr. Mohamad Subuh, MPPM mengungkapkan saat ini pemerintah sedang mencari formula yang pas untuk pembiayaan sehingga bisa diterapkan secara adil dan merata, serta kepesertaan dari semua stakeholder yang ada baik dari sisi private sector maupun public sector, dan juga tak menutup kemungkinan peran serta masyarakat. “Pertemuan ini sangat bagus guna membantu pemerintah dalam mencari solusi dan skema pembiayaan yang bisa kita gunakan untuk membuat suatu policy,” sebut Subuh.

Pertemuan ini juga dihadiri Kepala USAID Indonesia, Pamela Foster yang berbicara tentang 70 tahun dukungan USAID pada sistem kesehatan di Indonesia. Menurutnya, pertemuan InaHEA ini akan memainkan peran utama dalam membagikan upaya untuk mengoptimalkan kelangkaan sumber daya untuk meningkatkan hasil kesehatan. “Pertemuan ini memfasilitasi debat, tinjauan kebijakan, dan berbagi pengalaman dalam praktik. Ini juga memberikan dasar untuk pemahaman kesehatan ekonomi dan ekonometrik sebagaimana diterapkan dalam konteks yang lebih luas dari penelitian layanan kesehatan,” kata Pamela. *dar

BAGIKAN