PR Besar, Wisata Kapal Pesiar tidak Cukup hanya Pelabuhan

Kapal pesiar sudah mulai berlabuh di Pelabuhan Benoa, namun pariwisata Bali tampak belum siap menyambutnya.

15

Mangupura (bisnisbali.com) –Kapal pesiar sudah mulai berlabuh di Pelabuhan Benoa, namun pariwisata Bali tampak belum siap menyambutnya. Pariwisata pesiar yang notabene adalah  wisatawan dari kalangan menengah ke atas, memiliki karakter yang sangat berbeda dengan pariwisata biasa.

Pengamat pariwisata, Putu Agus Prayogi, SST. Par, M.Par. memaparkan, Bali harus bergegas melakukan perbaikan bila ingin menjadi salah satu destinasi wisata pesiar yang dipandang dunia. Wakil Ketua I Sekolah Tinggi Pariwisata (Stipar) Triatmajaya tersebut menuturkan berbicara masalah wisata cruice line, tidak hanya pelabuhan yang harus disiapkan. Tetapi memang fasilitas utama adalah ketersediaan prasarana pelabuhan, karena selama ini di Pelabuhan Benoa kapal belum bisa berlabuh di pinggir karena anjungan untuk kapal tidak memadai. Tetapi saat ini sudah dibangun pelabuhan yang memadai.

Di luar itu yang sangat mendesak dipersiapkan adalah atraksi, daya tarik dan objek wisata itu sendiri. Terkait itu juga aksebilitas menuju lokasi objek wisata harus memadai. “Karena wisatawan cruise ini memiliki keterbatasan dari segi waktu berbeda dengan wisatawan bisa, jadi jangan sampai mereka terjebak macet di jalan. Belum lagi kualitas jalan di masing-masing kabupaten/kota berbeda ada yang sudah bagus, ada yang masih perlu diperbaiki,” ucap pria asal Karangasem tersebut. Jadi akses ini juga perlu diperbaiki dan tingkatan kualitasnya tidak hanya pelabuhan karena akan sangat berpengaruh pada minat wisatawan untuk berkunjung ke Bali.

Dikatakan, wisatawan kapal pesiar pada umumnya adalah kalangan menengah ke atas, sehingga kecenderungan mereka menginginkan produk yang berkualitas. “Kita perlu kaji, objek kita sudah layak tidak. Karena harus berstandar internasional, meskipun sebagian objek seperti GWK sudah berstandar internasional, objek lainnya perlu banyak pembenahan sehingga merata semua berstandar internasional,” tandasnya.

Kriteria lainnya objek yang ditawarkan harus uniquely karena mereka memiliki pandangan tersendiri tentang objek wisata, agar tidak sama dengan daerah lain. “Kita harus mampu mengelola dengan baik, sesuatu yang dimiliki Bali tetapi tidak ada di tempat lain yaitu budaya. Stakeholder pariwisata harus mampu mengemas budaya ini menjadi sesuatu yang spesial bagi tamu cruise line, sehingga mereka bisa membangun image pariwisata Bali,” tukasnya.

Untuk itu SDM pariwisata di masing-masing objek benar-benar harus disiapkan. Dari segi bahasa dan pelayanan harus baik. Masyarakat juga harus menyiapkan diri dengan memupuk kembali budaya ramah-tamahnya orang Bali yang sangat terkenal.

Kemudian suvenir harus disiapkan yang memiliki keunikan dan kekhususan tersendiri dengan kualitas yang bagus tentunya yang juga bisa menjadi image pariwisata Bali. Fasilitas publik juga harus mendukung sehingga menimbulkan kesan Bali amazing.

“Ini sangat mendesak untuk dilakukan, terutama terkait keberadaan TPA Suung yang sangat dekat dengan Pelabuhan Benoa, harus segera ditata dan direlokasi seperti rencana Gubernur Bali, jangan sampai baru datang sudah menimbulkan kesan yang tidak baik,” tandasnya. Untuk itu seluruh stakeholder pariwisata harus bergegas mempersiapkan itu. *pur

BAGIKAN