Turun Jadi 5 Persen, Bunga Acuan BI Dipandang Ideal

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan kembali menurunkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) 25 bps atau menjadi 5,00 persen pada 24 Oktober lalu.

32

Denpasar (bisnisbali.com) –Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan kembali menurunkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) 25 bps atau menjadi 5,00 persen pada 24 Oktober lalu. Penurunan tersebut juga diikuti dengan suku bunga deposit facility mencapai 25 bps menjadi 4,25 persen, dan suku bunga lending facility 25 bps menjadi 5,75 persen.

Menanggapi hal tersebut ekonom dari Undiknas University, Prof. IB Raka Suardana, di Denpasar, belum lama ini mengungkapkan, tampaknya pemerintah pascapengumuman Kabinet Indonesia Maju ingin menargetkan mengejar pertumbuhan ekonomi dengan salah satunya melalui kebijakan penurunan suku bunga acuan BI. Asumsinya, pengumuman kabinet lalu sudah membuat adanya kepastian salah satunya di bidang ekonomi, sehingga investor yang masih bersikap wait and see sebelumnya, maka setelah pengumuman kabinet akan mulai mengeksekusi sejumlah target bisnis.

“Melalui penurunan suku bunga acuan BI ini, pemerintah ingin mempermudah eksekusi target bisnis calon investor tersebut dalam rangka menggeliatkan pertumbuhan ekonomi nasional,” tuturnya.

Jelas Raka, level 5,00 persen ini bisa dibilang cukup ideal untuk suku bunga acuan BI dan merupakan yang terendah dibandingkan dengan kebijakan BI7DRR selama ini. Bercermin dari itu dan juga menyangkut efek psikologis di kalangan perbankan, maka prediksinya suku bunga acuan BI yang berada di level 5,00 persen ini akan tetap bertahan hingga akhir tahun nanti.

“Efek psikologisnya dengan level 5,00 persen, kalangan perbankan masih memungkinkan untuk menyesuaikan kebijakan tersebut dan saat ini memang kalangan lembaga keuangan ini sudah mulai melakukan penyesuaian,” ujarnya.

Sementara itu, pelaku usaha Gede Sutama mengungkapkan, pascapenurunan suku bunga acuan BI agar segera disikapi oleh bank untuk menurunkan suku bunga kredit, meski dipahami bank membutuhkan waktu. Harapannya, bank jangan lama-lama supaya pasokan dan permintaan kredit naik, sehingga investasi bisa meningkat, dan akhirnya berdampak ke pertumbuhan ekonomi.

“Perbankan jangan hanya menyikapi penurunan suku bunga acuan ini dengan menurunkan suku bunga dana pihak ketiga (DPK), namun hal sama juga harus dibarengi dengan penurunan suku bunga kredit,” harapnya. *man

BAGIKAN