Kurang Perhatian, Usaha Rafting  Telaga Waja pun terus Menurun

Karangasem terkenal memiliki alam yang masih alami dan indah. Salah satunya, objek wisata rafting, yakni di Sungai Telaga Waja.

59

Karangasem terkenal memiliki alam yang masih alami dan indah. Salah satunya, objek wisata rafting, yakni di Sungai Telaga Waja. Selain indah dan menantang, jalur rafting itu memiliki debit air yang besar, dengan air yang  jernih. Namun belakangan, jumlah usaha rafting yang bertahan di alur sungai  itu, terus berkurang. Apa sebabnya?

KETUA Asosiasi Pengusaha Rafting Telaga Waja, Nyoman Sami saat menerima rombongan inspeksi mendadak (sidak) DPRD Karangasem beberapa waktu lalu mengeluhkan, sudah sejak awal kepemimpinan Bupati Karangasem I Wayan Geredeg sekitar 14 tahun lalu, para pengusaha rafting sudah menyampaikan masukan. Masukannya, agar apa yang diperlukan pengusaha dalam rangka memberi kenyamanan wisatawan yang rafting, bisa dipenuhi. Pengusaha memerlukan bantuan infrastruktur, yakni tangga untuk turun wisatawan rafting di bendungan milik Balai Sungai Bali Penida. Namun, sampai kini, tangga itu belum kunjung ada.

Tangga untuk turunan itu diperlukan, karena untuk keamanan pengguna rafting, terutama yang tak berani terjun dengan perahu raftingnya di terjunan air di bendungan yang cukup tinggi itu. Selama ini, asosiasi rafting membuat tangga darurat, tetapi cepat rusak atau hancur saat diterjang banjir. Para pengusaha lainnya, menilai pemkab terkesan hanya memungut retribusi dari rafting yang sudah terseok-seok itu. Sementara dulu, pasca banjir lahar dingin dan jalur rafting Telaga Waja hancur, tak ada bantuan. Pengusaha secara swadaya melakukan penataan atau pembersihan alur rafting dari kerusakan akibat sampah, timbunan batu-batu besar dan sampah pepohonan yang hanyut dibawa banjir lahar dingin pasca erupsi Gunung Agung 2018.

Nyoman Sami, pemilik salah satu usaha rafting di alur sungai itu mengatakan, dulu ada sampai 16 usaha rafting. Lalu jumlah itu terus berkurang, karena tak kuat bertahan, apalagi menghadapi persaingan dengan pengusaha rafting di sungai-sungai wilayah Gianyar. ‘’Saya tak tahu, apakah perlu studi banding ke usaha rafting seperti ke  Gianyar. Bagaimana di wilayah itu, rafting tetap maju dan ramai, apakah tarifnya lebih murah?’’ ujar Sami.

Pemilik BMW Rafting di Sungai Telaga Waja, Made Agus Kertiana juga mengatakan beberapa hari lalu di Karangasem, selama ini usahanya sudah menyetor retribusi yang dibayar wisatawan ke kasda Karangasem. Jumlahnya juga cukup besar, untuk ukuran usaha rafting yang tertatih-tatih di Sungai Telaga Waja. Namun, infrastruktur yang diberikan pemkab demi kenyamanan wisatawan rafting, belum juga diberikan. Aspirasi dari pengusaha sudah disampaikan sejak lama.

Kertiana yang kini Wakil Ketua DPRD Karangasem itu menyampaikan, sebelum erupsi Gunung Agung disusul banjir lahar dingin yang sempat menghancurkan jalur rafting Sungai Telaga Waja, ada 14 usaha. Sebelum itu, jumlah usaha lebih banyak lagi. Saat gejolak Gunung Agung mulai September 2017 disusul erupsi dan banjir lahan dingin, usaha rafting hancur. Sempat beberapa bulan tutup total. Lalu, karena tak ada kegiatan dan banyak tenaga kerja rafting menganggur, banyak juga yang pindah ke usaha serupa di kabupaten lainnya, perlahan secara swadaya kalangan peduli usaha rafting di Sungai Telaga Waja, melakukan pembersihan alur, lalu melakukan penataan. Kini bertahan tujuh usaha, dengan keadaan seadanya. ‘’Usaha rafting di Sungai Telaga Waja yang saya tahu, ibarat gunung. Dari jauh, kelihatan enak, usaha rafting, tinggal mengoperasikan perahu karet rafting, tak perlu apa-apa dapat uang. Tetapi sesungguhnya, kalau terlibat di dalamnya seperti saya, baru tahu kondisinya sudah, karena harus menghadapi persaingan, apalagi rafting di kabupaten lain seperti Gianyar, yang lebih dekat dengan bandara dan pusat wisata di Kuta atau Badung Selatan dan lebih cepat  terkenal. Para pengusaha rafting sudah melakukan berbagai upaya, tetapi tetap sudah,’’ papar anggota DPRD Karangasem asal Rendang itu.

DPRD Karangasem selain melakukan dengar pendapat, juga beberapa kali melakukan sidak ke objek wisata rafting di Telaga Waja. Sebab, rafting di Telaga Waja sangat potensial, tetapi target retribusi berkisar Rp 300 juta setahun, jarang tercapai. Salah satu penyebabnya, adanya dugaan kebocoran retribusi. Pejabat dari Dinas Pariwisata Karangasem saat Dewan melakuklan sidak ke kantor setempat,  lantas memberikan masukan, perlu dibangun tiga pos atau portal retribusi di pintu masuk objek atau usaha rafting, guna mengoptimalkan pemungutan retribusi. Tempat parkir  bus atau kendaraan pengangkut wisatawan yang hendak rafting juga sulit. Tempat parkir milik usaha tak memadai, akan penuh sehingga parkir meluber ke pinggir jalan yang sempit, tetapi ramai lalu lintas truk  galian C.  *bud

BAGIKAN