Rancangan Busana Malam harus Punya Daya Pakai  

Kain tradisional Bali atau biasa disebut "wastra Bali" dikenal memiliki nilai jual yang cukup tinggi.

45

Denpasar (bisnisbali.com) –Kain tradisional Bali atau biasa disebut “wastra Bali” dikenal memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Di tangan para desainer, kain tenun ikat seperti endek bisa dikreasikan menjadi busana atau gaun malam yang elegan, dan tentunya bisa menambah nilai jualnya.

Di ajang Festival Seni Bali Jani 2019 yang berlangsung di Ksirarnawa, Art Center Denpasar, baru-baru ini, para desainer muda Bali diberikan ruang untuk menampilkan karyanya melalui lomba dan desain busana malam modern bernuansa Bali. Dari rancangan yang ditampilkan terlihat jelas bahwa kain tradisional Bali mampu disulap menjadi busana malam yang elegan dan glamor.

Salah seorang juri yang juga desainer Bali kawakan, Cok Abi mengungkapkan bahwa kain tradisional, seperti endek tak hanya terpaku sebagai pakaian adat atau pakaian kerja. Dengan sentuhan inovasi dan perpaduan unsur-unsur pendukung seperti lis, payet dan bordir maka akan lahir busana malam yang sangat ekspresif.

“Kain tradisional itu sifatnya dinamis, jika dijadikan pakaian adat maka harus menerapkan pakem. Namun jika diinovasikan menjadi busana malam untuk menghadiri pesta misalnya, maka desainer bisa berkreasi secara bebas tanpa meninggalkan unsur tradisional Bali-nya. Intinya kita ingin menunjukkan Bali yang tradisional dan modern melalui busana,” ujar Cok Abi.

Cok Abi menambahkan melalui lomba ini akan memberikan kesempatan kepada desainer muda untuk menunjukkan kreativitasnya sekaligus mencari pengalaman. Baginya, sebuah rancangan baik berupa busana adat maupun busana malam harus memiliki daya pakai. Ini menjadi hal utama yang harus diperhatikan oleh desainer. “Desainer jangan hanya sekadar merancang atau membuat busana, apalagi busana malam, tapi juga harus memikirkan daya pakainya. Ini yang penting,” tegasnya.

Sementara itu desainer muda berbakat, Lady Athalia mengungkapkan sangat tertarik dengan kain tradisional Bali, khususnya endek. Mahasiswi semester 5 Desain Mode ISI Denpasar ini pun berhasil meraih juara pertama di ajang lomba kali ini dengan menampilkan rancangan busana malam yang berkonsep “Bali Aga”.

“Konsep ini saya tuangkan melalui motif kain, pilihan warna, serta padu padan uang kepeng dan payet sehingga terlihat klasik, namun glamor. Bagi saya, kain endek saat ini sudah berkembang. Dulu memang hanya untuk acara tertentu saja, tapi sekarang anak-anak muda juga senang memakai pakaian berbahan endek di berbagai kegiatan,” ungkap Lady.

Gadis yang baru saja dinobatkan sebagai Duta Endek Kota Denpasar 2019 ini menambahkan ajang lomba seperti ini memberikan banyak manfaat, terutama dalam mengembangkan potensi diri. “Saya gak mau stag jadi mahasiswa dan nunggu lulus dulu untuk bisa berkreasi. Banyak yang mendukung saya untuk mengembangkan potensi diri, diantaranya dengan mengikuti lomba,” bebernya. *dar

BAGIKAN