Kemasan Jadi Kunci Tembus Pasar Oleh-oleh

Pasar oleh-oleh menjadi tempat pemasaran strategis bagi produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang memiliki ciri khas Bali.

16

Amlapura (bisnisbali.com) –Pasar oleh-oleh menjadi tempat pemasaran strategis bagi produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang memiliki ciri khas Bali. Seperti produk olahan salak yang merupakan salah satu oleh-oleh khas Bali. Untuk bisa memasarkan produk di pasar oleh-oleh, kemasan menjadi faktor penting.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Adi Guna Harapan, Desa Perang Sari Kecamatan Selat Kabupaten Karangasem, I Wayan Kecik menuturkan, Gapoktan sudah membuat produk olahan salak sejak 2007, sebagai upaya untuk menekan kerugian petani salak saat panen raya. “Salak kami olah menjadi pia, cokelat, manisan salak dan jenis olahan lainnya. Karena sebagian daerah yang memproduksi salak, kami ingin menjadi sentra pengolahan salak tidak hanya menjual buah mentah karena meningkatkan nilai jual,” ungkapnya.

Memproduksi olahan salak tersebut ia mengaku belajar secara otodidak, karena terdorong oleh keinginan untuk menekan kerugian saat panen raya. “Waktu panen raya harga salak bisa Rp1.000 per 3 kilogram. Petani sangat merasakan kerugian, jerih payah selama setahun tidak ada harganya makanya kami mencari jalan agar memberikan nilai tambah pada salak,” ungkapnya. Dari pengolahan tersebut ia mengaku bisa meningkatkan margin pendapatan petani sekitar 30 persen, dibandingkan dengan menjual buah salak segar.

“Setelah kami pasarkan ke pasar oleh-oleh ternyata kemasan memang sangat menentukan, apakah konsumen tertarik membeli atau tidak,” katanya.

Setelah itu kualitas produk juga penting. “Pertama konsumen memang melihat kemasan yang menarik. Nah, setelah mencoba dan merasakan, tentu cita rasa dan kualitas produk akan membuat mereka ketagihan untuk membeli lagi,” katanya.

Produk olahan terutama pia salak memiliki cita rasa yang berbeda dari pia pada umumnya. “Salak Bali memang memiliki cita rasa berbeda dari salak pondok. Salak kita ada rasa manis dan sedikit asam, sehingga rasa pia yang kami buat juga unik dan patut untuk dicoba,” katanya.

Saat ini olahan salak sudah mulai dikenal orang, sehingga saat tidak musim salak Gapoktan sampai kewalahan mencari bahan baku pembuatan pia karena orderan harus dipenuhi. *pur

BAGIKAN