Persaingan Koperasi makin Ketat

persaingan dengan lembaga keuangan lain makin terasa apalagi di Bali karena lembaga-lembaga keuangan mikro di Bali sangat banyak baik LPD, kemudian dari BPR dan bank umum

37

Denpasar (bisnisbali.com) – Persaingan koperasi dengan lembaga keuangan mikro maupun perbankan saat ini makin ketat. Untuk itu, koperasi harus sehat dan besar, sehingga dipercaya masyarakat untuk bergabung menjadi anggota.

Ketua Pusat Koperasi (Puskop) Bali, Ketut Widartha mengatakan, persaingan dengan lembaga keuangan lain makin terasa apalagi di Bali karena lembaga-lembaga keuangan mikro di Bali sangat banyak baik LPD, kemudian dari BPR dan bank umum.

Menghadapi persaingan tersebut, koperasi tentunya memberikan keringanan bagi anggota untuk menambah modal usaha dengan bunga yang sangat kompetitif.

“Dibandingkan dengan 5 atau 10 tahun lalu, gerakan koperasi sedikit sehingga rentenir itu yang merajalela. Kondisi tersebut tentu sangat berat bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah untuk mengakses permodalan, karena bunganya sangat tinggi. Dengan adanya gerakan koperasi tentunya sangat bermanfaat bagi masyarakat terutama bagi yang bergerak pada usaha mikro kecil,” ungkapnya.

Ia mengatakan, persaingan sudah pasti ada, apalagi dengan adanya kredit usaha rakyat (KUR) itu, bunga ringan, modal yang didapatkan juga cukup memadai dan prosesnya cepat. Inilah salah satu persaingan bagi koperasi, tapi koperasi masih tetap bisa berjalan meski pertumbuhan aset, pinjam,  SHU tidak secepat tahun-tahun sebelumnya. Karena kompetitor koperasi yang cukup banyak di Bali, seperti LPD, BPR dan sesama koperasi.

“Koperasi itu identik lemah di bidang SDM, manajemen dan permodalan. Inilah salah satu kiat kita untuk menjawab itu dengan mendirikan koperasi sekunder. Koperasi sekunder ini menampung atau mengajak gerakan koperasi-koperasi primer untuk bisa bersatu dan bersinergi,” kata Widartha sambil mengatakan, Puskop berdiri pada 2008 dan saat ini  mengantongi predikat sehat nomor urut ke-3 di Bali  dengan skor 91,25.

Untuk meningkatkan kualitas SDM, sudah dibentuk lembaga diklat pendidikan dan pelatihan yang sertifikasi kompeten yang sifatnya seminar dan workshop untuk mendidik dan melatih tenaga koperasi menjadi tenaga yang terampil mengelola. Koperasi sekunder ini ada untuk menjawab tantangan koperasi yang memiliki  modal kecil, dengan  bersinergi maka gerakan koperasi yang masih kecil itu bisa beroperasional dengan baik, sehingga akan tumbuh koperasi-koperasi yang sehat dan kuat ke depannya.

“Manfaat bergabung ke koperasi sekunder mendapatkan informasi yang lebih dini terkait berbagai hal tentang gerakan koperasi, mendapatkan pendidikan dan pelatihan, kalau ada kelebihan dana bisa disimpan di koperasi sekunder atau kalau kekurangan likuiditas bisa ditalangi koperasi sekunder atau mendapatkan pinjaman,” katanya. *pur

BAGIKAN