Denpasar (bisnisbali.com) – Tahun ini budi daya udang paname mulai menggeliat, terutama daerah Jembrana yang keberadaannya mulai berkembang. Budi daya udang paname ini menggunakan teknologi baru dengan terpal yang membuat lebih efisiensi terhadap air.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Bali Ir. I Made Sudarsana, M.Si. saat ditemui belum lama ini mengatakan, udang paname lebih dipilih untuk dikembangkan oleh masyarakat karena lebih tahan penyakit. Petani udang biasanya khawatir dengan penyakit udang, karena dapat menyebabkan kematian udang massal sehingga petani rugi.

Dikatakannya, udang paname merupakan udang air payau (percampuran air laut dan air sungai) mengingat habitat udang di kawasan mangrove. Budi daya udang ini dilakukan di Jembrana dan Singaraja. Belakangan juga dibudidayakan di Karangasem, namun tidak terlalu banyak.

“Sekarang teknologi yang digunakan sudah ada modifikasi, ada inovasi yang dilakukan contohnya seperti penggunaan terpal dan efisiensi penggunaan air. Kalau dulu air kan dipakai bersama, satu kena penyakit, akhirnya yang lain juga kena,” ungkapnya.

Dijelaskannya, pembudi daya saat ini berupaya menekan agar lebih sedikit menggunakan air. Air diolah terlebih dulu sebelum digunakan untuk budidaya udang. Teknologi yang diterapkan sekarang dengan meminimkan pemanfaatan air dari luar sehingga membuat udang tidak mudah kena penyakit. “Dengan sistem sirkulasi air yang dikelola dengan metode baru, mereka lebih nyaman, sehingga stabil,” imbuhnya.

Udang paname diekspor namun dipilih ukuran yang besar. Ukuran kecil dijual ke pasar dalam negeri baik restoran, pasar tradisional dan modern. Ia menilai permintaan udang cukup tinggi belakangan ini. *wid

BAGIKAN