Kerajinan Anyaman Bambu terus Berinovasi

Tren memasang hiasan berupa decoupage masih cukup diminati oleh konsumen, sehingga produk yang dibuat sebagian besar dihiasi decoupage

25
KERAJINAN – Berbagai jenis produk kerajinan bambu yang siap untuk dipasarkan.

Denpasar (bisnisbali.com) – Kerajinan anyaman bambu berbentuk keben dan tempat kwangen yang menjadi keunggulan Kabupaten Bangli berupaya terus berinovasi mengikuti tren di pasaran. Tren memasang hiasan berupa decoupage masih cukup diminati oleh konsumen, sehingga produk yang dibuat sebagian besar dihiasi decoupage.

Gusti Ngurah Swedana, perajin asal Bangli mengaku permintaan keben dan tempat kwangen berhias decoupage masih tetap tinggi, meski tren tersebut tergolong cukup lama. “Dibandingkan keben dan tempat kwangen yang dicat biasa, produk dengan ornamen decoupage lebih tinggi peminat. Makanya saya lebih banyak memproduksi yang seperti itu, ketimbang yang biasa,” katanya pada sebuah pameran di Denpasar.

Untuk memasarkan kerajinan anyaman bambu tersebut, sebagai generasi muda ia lebih banyak memanfaatkan teknologi. “Bisnis kerajinan bambu ini lebih banyak digeluti oleh ibu-ibu dan orang tua, tapi saya melihat peluang besar. Makanya saya memberanikan diri terjun ke bisnis ini,” ungkapnya.

Apalagi melihat berbagai kebijakan yang diambil Gubernur Bali, yang memang sangat berpihak pada perajin dan UMKM di Bali. “Melihat kebijakan yang dibuat, menjadi acuan bagi saya untuk mempromosikan produk kerajinan bambu ini.  Sekarang orang tidak boleh lagi membungkus bunga dan kwangen dengan tas plastik, jadi semua beralih ke wadah yang lebih ramah lingkungan seperti tempat kwangen dari anyaman bambu,” ungkap pemilik Rahorder Keben Bali, Jalan Nusantara No. 53 Bangli tersebut.

Sebagai pengusaha muda, ia lebih memilih promosi melalui media sosial, jadi banyak orderan dari luar Bangli. “Memang promosi melalui media sosial ini, sangat  besar pengaruhnya terhadap penjualan. Kalau sebelumnya saya tidak mempromosikan produk melalui media sosial, permintaan tidak terlalu banyak karena hanya orang di Bangli yang membeli, belum lagi banyak yang memproduksi produk serupa sehingga persaingan sangat ketat,” ungkapnya.

Dengan media sosial, ia mendapatkan kemudahan dalam mempromosikan produk dan konsumen datang dari berbagai daerah.

Lebih lanjut dikatakan, ia selalu mengikuti tren terbaru yang ada di pasaran sehingga konsumen tidak jenuh dengan produk yang itu-itu saja. Karena tipe konsumen di Bali, akan selalu membeli produk terbaru yang sedang tren. *pur

BAGIKAN