Minggu Keempat Oktober 2019, Bali Diprediksi Alami Deflasi

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bali menyebutkan berdasarkan trackings minggu keempat Oktober 2019, diperkirakan Bali kembali mengalami deflasi.

30

Denpasar (bisnisbali.com) –Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bali menyebutkan berdasarkan trackings minggu keempat Oktober 2019, diperkirakan Bali kembali mengalami deflasi. Perkiraan menurunnya tekanan inflasi tersebut didorong oleh normalisasi permintaan pascahari raya Kuningan dan Idul Adha pada Agustus 2019.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Trisno Nugroho pada saat High Level Meeting TPID Bali di Renon, Selasa (29/10) kemarin mengatakan, kelompok volatile food akan diperkirakan mengalami deflasi, terutama didorong oleh kecukupan pasokan komoditas cabai rawit dan cabai merah seiring memasuki masa panen. Selain itu, pasokan telur ayam yang terjaga juga menahan laju inflasi.

Sementara kelompok core inflation diperkirakan meningkat didorong oleh peningkatan harga emas dan semen. Inflasi kelompok administered prices diperkirakan akan turun deiring dengan melandainya harga angkutan.

Trisno menyampaikan, jika melihat historisnya, inflasi Bali cenderung  mengalami peningkatan pada akhir tahun selama 2016-2018 dan cenderung lebih tinggi dibandingkan pada inflasi nasional. Hingga September 2019, inflasi tahunan Bali masih berada di bawah inflasi nasional.

Inflasi di kedua kota sampel inflasi di Bali berada selaras dengan inflasi Bali, kecuali Singaraja yang berada di atas inflasi Bali dalam 3 bulan terakhir.

Terkait estimasi beberapa komoditas Oktober 2019 berdasarkan survai pemantauan harga (SPH) menunjukkan, hingga minggu III Oktober 2019, komoditas cabai merah dan cabai rawit perlu mendapat perhatian karena harga yang berfluktuasi tinggi, meskipun saat ini sumbangan inflasi rendah.

Wakil Ketua TPID Bali ini menyampaikan, komoditas penyumbang inflasi atau berdasarkan andil tertinggi pada triwulan IV 2018 di antaranya beras, bawang merah, daging babi, buncis, bensin dan angkutan udara. Sementara komoditas penyumbang inflasi (berdasarkan andil tertinggi) pada triwulan IV 2017 di antaranya beras, daging ayam ras, bawang merah, pepaya, pasir dan rokok kretek.

Terkait hal tersebut BI menyimpulkan periode Januari-September 2019, inflasi di Bali untuk inflasi umum 2,29 persen (rata-rata yoy) /1,53 persen ytd. Inflasi volatile food 0,88 persen (rata-rata yoy) / -1,06 persen ytd.

Inflasi pada Oktober 2019 di Bali diproyeksikan berada pada range -0,27 persen –0,27 persen (mtm) dan 2,36 persen -2,76 persen (yoy).  Namun demikian, kata Trisno yang perlu dicermati adalah fluktuasi komoditas yang selalu mengalami kenaikan pada triwulan IV yaitu beras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, daging babi,daging ayam ras dan telur ayam ras.

Sementara itu, kata dia perlu juga diwaspadai tarif angkutan udara terkait dengan lonjakan permintaan pada periode peak season pariwisata. Selain itu, menurut (SPH) BI, perlu diperhatikan komoditas cabai rawit dan cabai merah, karena fluktuasi harga yang cukup tinggi, meskipun sumbangan inflasi hingga minggu III Oktober 2019 rendah. *dik

BAGIKAN