Tangani Populasi Lansia, Tingkatkan Promotif dan Preventif Kesehatan

Usia harapan hidup di Bali saat ini mengalami peningkatan dari usia 69 tahun menjadi 72 tahun.

13
Para lansia persiapan sebelum senam lansia.

Denpasar (bisnisbali.com ) –Usia harapan hidup di Bali saat ini mengalami peningkatan dari usia 69 tahun menjadi 72 tahun. Ini menyebabkan populasi lansia di Bali mencapai angka sembilan persen dari jumlah total penduduk dan diramalkan akan meningkat menjadi 11 persen pada tahun 2025. Makin panjangnya usia harapan hidup tentunya Bali harus siap dengan adanya ledakan populasi penduduk dengan usia lansia.

Di sisi lain lansia bukanlah penduduk produktif dan berpotensi besar menderita penyakit infeksi maupun noninfeksi. Untuk menciptakan penduduk lansia yang memberdaya dan sehat,  diperlukan langkah promotif dan preventif di dunia kesehatan dan tidak hanya sekadar tindakan kuratif atau pengobatan.

Prof. DR. dr. R.A. Tuty Kuswardhani, Sp.Pd, KGer,  Pemerhati lansia,  mengatakan peningkatan langkah promotif dan preventif ini bisa diawali lewat kegiatan posyandu. Di mana saat ini beberapa desa sudah mulai menggalakkan posyandu lansia. Dalam posyandu tersebut, lansia tidak hanya diperiksa kesehatannya secara rutin tetapi dilakukan kegiatan yang menyehatkan seperti senam sehat maupun informasi mengenai makanan maupun cara hidup yang sehat.
Menurut Tuty jika tindakan preventif dan promotif tidak digalakkan maka di tengah peningkatan populasi lansia juga akan terjadi peningkatan kasus penyakit infeksi maupun non infeksi. ”Lansia itu rentan untuk menderita penyakit. Sehingga mereka membutuhkan langkah peningkatan kualitas hidup tidak hanya sekadar diobati saat mereka sakit,” ujar Tuty.
Dengan digalakkannya tindakan promotif dan preventif, selain mencegah lansia menderita penyakit juga meningkatkan kualitas hidup lansia. Di mana dengan kegiatan posyandu lansia, para lansia akan bertemu dan mengobrol dengan orang seusianya sehingga meningkatkan kognitif serta menurunkan potensi stres.

Dengan lansia yang sehat dan ditangani di hulu tentunya akan menekan angka kesakitan lansia itu sendiri. Selain menekan angka kesakitan, tentunya juga akan menekan anggaran untuk biaya kesehatan lansia. ”Jika lansia sakit, penyakitnya itu sangat kompleks dan tentu biaya yang dibutuhkan tinggi. Jika ditangani di hulu dan tidak sampai sakit, tentu anggaran untuk kesehatan lansia pun bisa ditekan,” ujarnya.
Selain tindakan promotif dan preventif berupa kegiatan posyandu lansia, menurut Tuty dalam mencegah penyakit sebenarnya memerlukan vaksinasi untuk lansia terutama vaksnasi influenza, hepatitis, herpes dan pneumonia. Sayangnya untuk vaksinasi ini di Indonesia belum menjadi tanggungan pemerintah dan masih secara swadaya. Di sisi lain, pemberian vaksinasi lansia di Indonesia belum awam ditengah masyarakat dan dianggap belum penting sehingga tidak banyak lansia yang menjalani vaksinasi secara swadaya.*pur

BAGIKAN