KLB Difteri di Jawa, Dinkes Bali tak Khawatir, Cakupan Imunisasi 99,5 Persen  

Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di beberapa daerah di Indonesia, tidak membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali menjadi resah.

27
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Bali, I Wayan Widia, SKM.M.Kes (kanan) didampingi Kepala Seksi Surveilan dan Imunisasi, dr. I.G.A. Raka Susanti, M.Kes

Denpasar (bisnisbali.com) –Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di beberapa daerah di Indonesia, tidak membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali menjadi resah. Pasalnya cakupan imunisasi difteri di Bali selalu di atas rata-rata nasional yaitu 99,5 persen, dan melebihi target nasional.

Bali sebagai tempat tujuan wisata dimana mobilitas atau pergerakan penduduknya cepat sebenarnya memiliki potensi penularan difteri besar. Karena itu, untuk mencegah penularan difteri ini, Dinkes Provinsi Bali memperkuat cakupan imunisasi difteri. Sebab, untuk bisa melindungi dari difteri, imunisasi adalah langkah utamanya selain penerapan hidup bersih dan sehat (PHBS).

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Bali, I Wayan Widia, SKM.M.Kes didampingi Kepala Seksi Surveilan dan Imunisasi, dr. I.G.A. Raka Susanti, M.Kes, Senin (28/10) mengatakan cakupan imunisasi difteri di Bali selalu di atas rata-rata nasional yaitu 99,5 persen. ”Target nasional untuk cakupan imunisasi difteri nasional adalah 95 persen. Tapi Bali cakupannya mencapai 99,5 persen,” ujar Widia.

Raka Susanti menambahkan penanganan utama dari difteri adalah imunisasi. Imunisasi difteri masuk dalam imunisasi DPT (difteri, pertusis dan tetanus) yang merupalan salah satu vaksinasi yang wajib diberikan kepada balita. ”Anak usia dua tahun harus sudah mendapatkan imunisasi DPT. Dan akan diulangi pada saat anak masuk ke kelas 1 SD,” ujar Raka Susanti. Dengan imunisasi ini, maka anak akan mendapatkan kekebalan dari infeksi bakteri penyebab difteri.

Mengingat cakupan imunisasi DPT di Bali tinggi, menurut Raka seandainya ada kasus positif anak yang tidak mendapatkan imunisasi juga kemungkinan kecil tertular karena sudah terbentuk kekebalan kelompok. Namun bukan berarti pihak Dinkes berpangku tangan. Setiap Puskesmas tetap disiagakan jika menemukan kasus susect difteri.

Jika ditemukan kasus suspect menurut Raka Puskesmas segera melapor ke Dinkes Kota/Kabupaten setempat yang diteruskan ke Dinkes Propinsi. Nantinya, sampel dari pasien suspect akan diperiksa di Litbangkes. Untuk tahun 2019 ini, Bali mengirimkan satu sampel pasien suspect difteri dan hasilnya negatif.

Difteri menurut Raka adalah penyakit infeksi karena bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menyerang saluran pernafasan. Penyakit ini 100 persen menyebabkan kematian jika tidak ditangani. Adapun gejala awal atau suspect yang patut diwaspadai adalah timbulnya demam, batuk dan infeksi saluran nafas atas. Gejala khasnya adalah timbul membran berwarna putih di saluran pernafasan atas. Membran ini merupakan sarang bakteri yang menghasilkan toksin. Jika dibiarkan toksin ini akan menyebar ke tubuh dan bisa berakibat fatal seperti menyebabkan serangan jantung. ”Jika terinfeksi, pasien harus diisolasi. Diberikan pengobatan salah satunya pemberian anti toksin bakteri. Jika tidak tertangani, maka menyebabkan kematian 100 persen,” jelas Raka.

Untuk itu, Raka berharap setiap orangtua yang memiliki anak balita dilengkapi imunisasi dasarnya. Setelah itu diterapkan prilaku hidup bersih dan sehat salah satunya kebiasaan cuci tangan. Bakteri penyebab difteri ini hidup alami di alam. Bisa menular lewat udara, makanan maupun air liur dari penderita.

Untuk diketahui kegiatan belajar mengajar di Sekolah  di kota Malang diliburkan setelah ratusan siswa menderita penyakit carrier difteri. Selain itu di DKI Jakarta dan Jabar, ada 600 pelaj yang kena difteri.*pur

BAGIKAN