Pada akhir September 2019, harga jual gabah kembali menggeliat. Harganya naik dengan menyentuh Rp 5.200 per kg dari sebelumnya Rp 4.500. Pencapaian tersebut sekaligus merupakan rekor tertinggi selama ini. Apa yang menyebabkan?


HARGA gabah di tingkat petani di Bali tampaknya tengah mengalami tren lonjakan beberapa bulan terakhir. Itu dibuktikan juga dari hasil pencatatan harga gabah di tujuh kabupaten amatan yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) Bali pada September 2019, yakni di Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Klungkung, Karangasem dan Buleleng yang menunjukan lonjakan dari bulan-bulan sebelumnya.

Dari pencatatan September 2019, harga gabah kualitas GKP di tingkat petani di Bali naik 1,29 persen, dari Rp 4.455,71 per kg pada bulan sebelumnya atau menjadi Rp 4.513,30 per kilogram. Hal sama juga terjadi pada rata-rata harga GKP di tingkat penggilingan tercatat mengalami kenaikan 1,23 persen dari Rp4.547,56 per kg menjadi Rp 4.603,57 per kg.

Ketua DPD Persatuan Penggilingan Padi (Perpadi) Bali AA Made Sukawetan mengungkapkan, sudah sejak seminggu terakhir harga produksi gabah di tingkat petani di Bali kembali naik dengan bercokol di level Rp 5.200 per kg. Diakuinya, kondisi tersebut merupakan harga tertinggi yang pernah ada di Bali dan besar kemungkinan harga akan berpotensi mengalami lonjakan kembali, bahkan bisa menembus level Rp 5.400 per kg mengingat jumlah panen sudah sangat menipis dari sebelumnya.

Jelas Sukawetan, lonjakan harga gabah ini sesuai prediksi sebelumnya dengan melihat dampak dari musim kemarau yang terjadi cukup panjang pada akhir tahun ini, sehingga membuat luasan produksi dan luasan panen padi berkurang dari sebelumnya. Katanya, lonjakan harga gabah ini juga mendorong ikut naiknya harga beras di tingkat usaha penggilingan sekarang ini.

“Kini harga beras untuk kualitas premium sudah berada di level Rp 9.500 per kg, naik dari Rp 8.800 per kg. Sementara beras untuk kualitas medium naik mencapai Rp 9.300 per kg sekarang ini,” paparnya.

Di sisi lain, katanya, meski harga gabah di tingkat petani ini naik, hal itu berbanding terbalik dengan kualitas panen yang ada sekarang ini. Diakuinya, sebagian besar kualitas panen gabah di tingkat petani kurang maksimal. Itu salah satunya dicerminkan dengan tingkat rendemen gabah yang berada di kisaran 54-55 persen dampak dari kekeringan sekarang ini.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra, Dr. Ir. Gede Sedana,  M.Msc., MMA. mengungkapkan, musim kemarau yang berkepanjangan sangat mempengaruhi aktivitas pertanian, khususnya di lahan persawahan. Kebutuhan air irigasi makin sulit diperoleh petani karena menurunnya debit air di tingkat sumber, seperti danau, mata air dan sungai. Kondisi ini dialami oleh subak-subak yang ada di Bali, seperti di Karangasem, Buleleng, Tabanan dan Jembrana sekarang ini.

“Ancaman kekeringan ini berdampak pada gagal panen dan kerugian di pihak petani, namun di beberapa wilayah lainnya di Bali, subak-subaknya masih dapat mengatur pengelolaan usaha tani di lahan sawah melalui sistem irigasi tradisonal,” ujarnya.

Menurut Ketua HKTI Buleleng ini, di tengah ancaman musim kemarau ini, subak sebagai salah satu pusaka leluhur dan diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia masih menunjukkan fungsi dan perannya di dalam pengelolaan usaha tani di lahan sawah, baik pada aspek irigasi maupun pertanian. Budaya pertanian yang masih dipertahankan pada sistem subak oleh para petani anggotanya memberikan jaminan bagi mereka untuk melangsungkan pengelolaan usaha tani di lahan sawah, meskipun kondisi air irigasi yang terbatas.

“Budaya pertanian yang ditunjukkan oleh subak adalah adanya pengaturan pola tanam dan jadwal tanam yang disepakati melalui konsensus para anggota dan pengurusnya,” kilahnya.

Pengaturan pola tanam dan jadwal tanam ini merupakan salah satu peran subak dalam mendistribusikan dan mengalokasikan air atau irigasi kepada para anggotanya secara proporsional dan dipandang adil. Diakuinya, pada sistem subak, pendistribusian air irigasi didasarkan pada konsep sagilik-saguluk salunglung sabayantaka, paras-paros sarpanaya, saling asah, asih, asuh. Melalui konsep itu, para petani dapat saling memahami kondisi irigasi dan lingkungan fisik serta sosial di tingkat subak dan sekitarnya, sehingga pengaturan pola tanam dapat ditetapkan. Misalnya padi-padi-palawija, atau padi-palawija-palawija, atau padi-palawija-padi, atau padi-padi atau palawija-palawija.

Sebagai organisasi yang bersiafat sosio-agraris-religius, subak juga memiliki peran yang penting di dalam penentuan jenis atau varietas tanaman (padi, palawija, dan tanaman lainnya). Selain itu, subak-subak juga memilki kekuatan spiritual di dalam pengelolaan usahatani di lahan sawah. Peran subak dalam konteks ini adalah penyelenggaraan kegiatan ritual keagamaan yang sangat diyakini memberikan anugerah dalam berproduksi, dan juga untuk berbagai kegiatan yang menjadi komponen Tri Hita Karana.

“Sebab itu, peran penting subak di dalam mengatasi ancaman kekeringan ini adalah mengatur pengelolaan distribusi dan alokasi air irigasi, penetapan pola tanam dan jadwal tanam sesuai dengan ketersediaan air irigasi di tingkat sumber,” tegasnya. *man/editor rahadi

BAGIKAN