Bandara Ngurah Rai Hadirkan ’’Balinese Culture in Harmony’’

PT Angkasa Pura I (Persero) selaku pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai berupaya untuk menghadirkan suasana khas Bali di dalam area bandara

36
Penampilan kesenian Bali dalam event "Balinese Culture in Harmony" di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Mangupura (bisnisbali.com) –PT Angkasa Pura I (Persero) selaku pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai berupaya untuk menghadirkan suasana khas Bali di dalam area bandara, mulai dari arsitektur bangunan, ornamen yang menghiasi bangunan gedung terminal, hingga atmosfer di dalam terminal yang kental dengan tradisi dan budaya Bali.

Berbagai kegiatan berupa pelestarian budaya Bali pun turut disuguhkan bagi para penumpang. Bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, salah satu bandara tersibuk di Tanah Air ini menghadirkan pertunjukan seni budaya Bali yang bertajuk “Balinese Culture in Harmony” pada 27-28 Oktober 2019. Berbagai jenis tarian ditampilkan baik di terminal keberangkatan domestik maupun terminal keberangkatan internasional.

“Tujuan dari even Balinese Culture in Harmony ini adalah untuk memperkenalkan budaya Bali kepada para wisatawan, baik domestik maupun yang berasal dari mancanegara. Selain itu untuk semakin mempertegas nuansa dan atmosfer khas Bali di dalam terminal bandara,” ujar Co. General Manager Commercial PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Rahmat Adil Indrawan, Senin (28/10).

Sebelumnya alunan musik rindik sudah terlebih dahulu mengalun merdu di berbagai sudut terminal. Pertunjukan ini semakin menguatkan suasana terminal dengan atmosfer khas Bali.

“Dengan ambience di dalam terminal yang kental dengan budaya Bali akan memberikan suatu pengalaman tak terlupakan bagi para wisatawan. Hal tersebut yang akan menjadi magnet bagi para pelancong untuk datang kembali ke Bali,” lanjutnya.

Salah satu kesenian yang disuguhkan adalah tari topeng kreasi yang berjudul “Hyang Tri Semaya”. Tarian yang ditampilkan oleh Sanggar Paripurna tersebut bercerita tentang kisah Sang Hyang Wisnu yang melihat ketidakwajaran di mercapada. Ketentraman alam raya tengah terusik oleh para raksasa Butakala Pisaca yang dipimpin oleh Kala Ludra dan Dewi Durga.

Melihat ketidakseimbangan di dunia tersebut, Hyang Tri Semaya (Brahma, Wisnu, Iswara) kemudian turun ke dunia untuk membuat kesenian berupa seni tabuh dan seni tari yang diiringi oleh para Genarwa. Sang Hyang Tri Semaya terbang ke segala penjuru dunia untuk menyebarkan kesenian, serta Dewa Wisnu yang turut menari Telek Brahma. Berkat tarian dan bunyian tetabuhan yang diciptakan oleh Sang Hyang Tri Semaya, Kala Ludra dan Dewi Durga berubah wujud kembali menjadi Dewa Siwa dan Dewi Uma, hingga akhirnya tercipta suatu harmoni.

“Tarian ini dimaknai sebagai suatu penciptaan harmoni di dunia. Di Bali sendiri, walaupun banyak dikunjungi oleh anak manusia dari berbagai kultur yang ada dunia, kebudayaan Bali tetap lestari dan berjalan beriringan. Di akhir Oktober ini bertepatan dengan perayaan Halloween di negara-negara barat.

Di Bandara Ngurah Rai, kami selaraskan perayaan Halloween di dalam bandara dengan pertunjukan kesenian Tari Hyang Tri Semaya ini, supaya keduanya dapat beriringan berjalan dalam memberikan pengalaman tak terlupakan bagi para penumpang yang tengah berada di bandar udara. Itu lah makna harmoni,” tutur Rahmat Adil.

Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Wayan Adnyana mendukung dan mengapresiasi terhadap inisiatif Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai terhadap kegiatan ini. “Kami mengapresiasi inisiatif dari manajemen bandara dalam pelestarian seni dan kebudayaan Bali. Sebagai pintu masuk wisatawan dari seluruh dunia, dengan dipentaskannya pertunjukan tarian ini akan semakin mengenalkan seni dan budaya Bali ke dunia,” ujarnya. *dar

BAGIKAN