Bali masih tetap Optimis Gaet Tujuh Juta Wisman

DALAM mencapai target 7 juta wisman ke Bali diperlukan berbagai strategi. Ini mencakup penawaran paket wisata, penampilan daya tarik wisata termasuk dari promosi dan pemasaran.

23
TARGET - Kunjungan wisman ke Bali diharapkan mampu maksimal guna membantu pencapaian target kunjungan wisman ke Indonesia. 

Pariwisata Bali tentunya wajib men-support kepemimpinan Presiden Jokowi jilid II terutama dari sektor pariwisata. Sejauhmana upaya pariwisata Bali mencapai target 7 wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali untuk memenuhi kontribusi 40 persen wisman ke Indonesia 2019?

DALAM mencapai target 7 juta wisman ke Bali diperlukan berbagai strategi. Ini mencakup penawaran paket wisata, penampilan daya tarik wisata termasuk dari promosi dan pemasaran.

Wakil Ketua Umum I Dewan Pimpinan Pusat Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA), I Made Ramia Adnyana, mengatakan untuk mencapai target 7 juta wisman ke Bali 2019 masyarakat, pemerintah dan stakeholder pariwisata Bali mesti bersama-sama menjaga image pariwisata Bali.
Menurut Ramia, pemerintah harus lebih banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan promosi. Pariwisata Bali harus menjaga image pariwisata Bali terutama di media online.
Berkaca dari permasalahan yang dihadapi Bali sebelummnya, seperti bencana alam mesti disertai informasi yang benar melalui media online. Ini termasuk tindakan kriminal yang terjadi di sektor pariwisata mesti diinformasikan secara benar.
Ramia Adnyana meyakinkan yang terpenting pariwisata Bali harus selalu memberikan keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan yang berlibur ke Bali. Ini akan mengembalikan posisi pariwisata Bali sebagai the top destination.
Dewan Pembina DPD Asita Bali, Bagus Sudibya mengatakan pariwisata Bali memang dipersiapkan lebih serius untuk menjamu wisman yang berkunjung ke Indonesia. Dari penggarapan wisman tersebut Bali masih tepat berkontribusi 40 persen untuk target  kunjungan wisman ke Indonesia.
Dilihat dari demografi, pariwisata Bali memang lebih banyak menggarap wisatawan dari berbagai negara. Pariwisata Bali lebih dominan untuk melayani wisman yang berlibur di Indonesia.
Konsul Kehormatan Afrika Selatan untuk Bali ini menjelaskan, wisman yang berlibur ke Bali juga tergolong wisatawan berpengalaman. Kebutuhan wisman ini  tentunya berbeda dengan kebutuhan wisatawan domestik (wisdom).
Wisman yang berlibur ke Bali ini memang lebih banyak terpogram. Ini mulai dari waktu kedatangan, paket wisata yang dipilih termasuk hotel tempat menginap sudah terprogram.
Lebih lanjut dikatakannya, waktu liburan  wisman ini sudah terjadwal dan lama menginap wisman ini sudah terprogram. Tingkat flesibelitas wisman ini rendah sehingga kegiatan berlibur wisman di Bali tidak boleh keluar dari program yang telah mereka tetapkan.
Menurut Bagus Sudibya, teknis menggrarap wisman berbeda dengan menggarap wisdom. Pelayanan kepada wisman mesti disesuaikan dengan standar atau sesuai perjanjian.
Dalam rentang puluhan tahun, pariwisata Bali sudah berpengalaman menggarap wisman. Pendapatan Bali dari sektor pariwisata sangat mendongkrak  penambahan devisa negara.
Bagus Sudibya menambahkan melalui penggarapan sektor pariwisata, Bali bisa membantu pemerintah pusat menyeimbangkan neraca perdagangan Indonesia yang selama ini defisit. Perlambatan ekonomi secara global, Indonesia tidak bisa maksimal mengoptimalkan ekspor, Indonesia sangat strategis menggarap sektor pariwisata guna peningkatan devisa negara.
Plt Kadisparprov Bali, Putu Astawa mengatakan dalam proses pencapaian target 7 juta wisman pariwisata Bali khususnya tidak dihadapkan gangguan bencana alam dan ancaman-ancaman lainnya. Kunjungan wisman ke Bali sangat sensitif dengan masalah gangguan bencana termasuk ancaman seperti gangguan keamanan.
Dampak gangguan bencana alam ini akan mempersulit Bali dalam mencapai target kunjungan wisman. Di samping gangguan dan ancaman di Indonesia kunjungan wisman ke Bali juga dipengaruhi ekonomi global dan kondisi politik dunia internasional.
Astawa mencontohkan aksi demo yang baru-baru ini terjadi di Hongkong sangat berdampak pada penurunan kunjungan wisatawan Tiongkok ke Bali. Perang dagang Cina-Amerika juga mempengaruhi penurunan animo kunjungan wisman ke Bali dan ke Indonesia secara umum.
Pemerintah dan pelaku pariwisata mesti sekuat tenaga menghadapi tantangan dalam pengembangan  pasar pariwisata Bali. Semua kejadian termasuk gangguan yang terjadi di Indonesia maupun di dunia akan tetap menjadi bahan evaluasi.
Putu Astawa menegaskan, upaya mengevaluasi target kunjungan wisman ke Bali bukan menjadi solusi mengadapi tantangan pariwisata Bali ke ke depan. Pemerintah bersama stakeholder pariwisata mesti optimis mengejar target 7 juta kunjungan wisman ke Bali 2019. *kup

BAGIKAN