Selama Empat Tahun, Investasi Besar Baru di Karangasem Nihil

DATA dan pernyataan bahwa di Karangasem sudah sekitar empat tahun ini tidak ada investasi besar baru, justru disampaikan langsung Wakil Bupati Karangasem Dr.  I Wayan Artha Dipa, S.H.

27

Di Karangasem, sudah lama tak ada investasi baru berskala besar. Karena itu, lapangan kerja baru sulit didapat. Banyak generasi muda, lulusan SMA/SMK bahkan perguruan tinggi, berharap diterima menjadi pegawai kontrak daerah padahal gajinya tak seberapa, berkisar Rp 800 ribu sampai Rp 1,7 juta. Bagaimana cara menarik investasi baru sehingga ada lapangan kerja baru di sektor swasta atau sektor industri  di Karangasem?

DATA dan pernyataan bahwa di Karangasem sudah sekitar empat tahun ini tidak ada investasi besar baru, justru disampaikan langsung Wakil Bupati Karangasem Dr.  I Wayan Artha Dipa, S.H. Saat ditemui beberapa waktu lalu di ruang kerjanya di Amlapura, Artha Dipa mengatakan, sudah sekitar empat tahun ini, yakni sejak 12 Februari 2016, tidak ada investor yang melakukan investasi dalam skala besar di Karangasem. ‘’Sudah sekitar empat tahun investasi baru  dalam skala besar, nol  atau kosong di Karangasem,’’ ujarnya prihatin.

Dikatakan, pihaknya tidak perlu menjawab, kenapa selama empat tahun ini, tidak ada investasi besar alias nol di Karangasem. Pria asal Desa Sangkan Gunung, Sidemen, Karangasem itu mengatakan, tidak hanya investor yang berani berinvestasi di Karangasem, bukan akibat gejolak atau ancaman erupsi Gunung Agung. ‘’Saya tak perlu menjelaskan. Anda, para wartawan sudah tahu itu,’’ ujarnya, tanpa mau menjelaskan lebih lanjut.

Menurutnya, investor perlu kepastian, misalnya, di mana boleh membuka investasi tertentu. Selain kepastian izin penggunaan ruang (IPR) perlu juga kepastian, syarat perizinan dan  berapa lama mengurus izinnya.  Jangan sampai, papar Artha Dipa, mencari izin berbulan-bulan, belum ada kepastian dapat atau tidak. ‘’Kalau ada kepastian dan izin mudah didapat, saya kira investor besar akan berbondong-bondong datang berinvestasi di Karangasem,’’ tambahnya.

Dikatakan, pihaknya banyak memiliki teman, jaringan, seperti dari kalangan asosiasi perjalanan wisata (Asita). Rekannya kalangan pengusaha besar itu menanyakan kalau kalangan pengusaha itu, membawa tamu wisatawan asing atau lokal, sekitar 50 bus besar, apakah ada tempat atau restoran untuk tempat makan siang di Karangasem. Di mana itu? ‘’Saya sarankan, wisatawan yang banyak itu kalau diajak berwisata ke Karangasem agar membawa bekal atau makanan dalam kotak. Saya ditertawakan. Bahwa tamu wisatawannya orang-orang elite, mana mau dibawakan bekal nasi kotak? Ini artinya, peluang untuk investasi besar, seperti hotel dan restoran masih sangat terbuka. Cuma kenapa tidak ada yang mau berinvestasi di Karangasem? Ini yang harus dicari sebabnya,’’ paparnya.

Dihubungi di tempat terpisah sebelumnya, Manager Badan Pengelola Taman Soekasada Oejoeng (TSO), Karangasem, Ir. Ida Made Alit juga kerap menyampaikan kalau restoran yang representatif dan bertaraf internasional menjadi kendala pihaknya, khususnya dalam mengembangkan TSO.  Pihaknya sejak lama merancang, TSO bakal dibuka sampai malam hari misalnya sampai pukul 21.00. Malam hari, bisa digelar atraksi seni dan budaya atau kesenian khas Karangasem, sehingga di Karangasem pada malam hari ada hiburan yang bisa dinikmati wisman. Namun, di Karangasem belum ada restoran yang bertaraf internasional. ‘’Kami mengundang kalau ada investor di bidang restoran, bisa berinvestasi terkait atau dekat TSO,’’ katanya.

Ketua DPRD Karangasem I Gede Dana yang dihubungi Jumat (25/10) lalu sangat menyayangkan, di Karangasem sudah lama tidak ada investor baru skala besar yang mau berinvestasi. Hanya investasi baru skala besar itu, yang bakal membuka banyak lapangan pekerjaan, sehingga tidak banyak pengangguran. Menurut Gede Dana, agar investor tertarik, mereka mesti diberikan reward, diberikan kemudahan. ‘’Investor yang hendak berinvestasi di Karangasem jangan sampai dibebani hal aneh-aneh, apalagi dibebani hal yang tak sesuai aturan berinvestasi,’’ tegasnya.

Dikatakan, eksekutif atau Bupati Karangasem mesti mampu mengundang, melobi investor melalui bantuan Pemprov bahkan pemerintah pusat. Itu kalau tak mampu melakukannya sendiri dalam mengundang, melobi atau menarik investor besar agar mau berinvestasi di Karangasem. Untuk bantuan lobi itu, tentunya harus sevisi dengan pemerintah atasan. ‘’Saya prihatin seperti yang disampaikan Wakil Bupati Karangasem, sudah sekitar empat tahun ini tak ada investor baru yang mampu membuka banyak tenaga kerja baru. Saya khawatir, tak ada investor mau berinvestasi dalam  skala besar di Karangasem, jangan-jangan karena ada yang mempersulit atau dikenai persyaratan tertentu. Saya pernah dengan pengusaha seperti Tinton Suprapto pernah melakukan penjajakan bahkan sampai ke Kubu, tetapi tidak lagi terdengar kabarnya. Investasi pelabuhan kapal pesiar Tanah Ampo, juga belum dioperasikan atau dibuka,’’ tandas Gede Dana. *bud

BAGIKAN