Paruman Agung Dharma Ghosana se-Nusantara di Badung

PARUMAN Agung Dharma Ghosana se-Nusantara tahun 2019 dilaksanakan di Kabupaten Badung dihadiri Ida Pedanda Siwa dan Buddha kabupaten kota se-Bali

43
PARUMAN - Bupati Giri Prasta saat menghadiri Paruman Agung Dharma Ghosana se-Nusantara tahun 2019 di Gedung Giri Nata Mandala Puspem Badung, Minggu (27/10).

Dihadiri 500 Sulinggih dan 700 Angga Walaka

PARUMAN Agung Dharma Ghosana se-Nusantara tahun 2019 dilaksanakan di Kabupaten Badung dihadiri Ida Pedanda Siwa dan Buddha kabupaten kota se-Bali, penglingsir puri se-Bali, Dharma Ghosana  Lombok dan Dharma Ghosana Jabodetabek bertempat di gedung Giri Nata Mandala Puspem Badung, Minggu (27/10) kemarin.

Acara ini dihadiri Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta didampingi Ketua DPRD Kabupaten Badung I Putu Parwata, Ketua Harian Dharma Gosana Dharmopadesa Pusat Ida Pedanda Gede Jelantik Dwaja, Ketua Harian Dharma Prawerti Sabha Dharmopadesa Kabupaten Badung Ida Pedanda Putra Pasuruan, Kepala Kementrian Agama Kabupaten Badung AA Manguningrat, Ketua PHDI Badung, Camat Mengwi I Gst. Ngurah Jaya Saputra dengan Tripikanya dan para tokoh umat se-Dharma.

Ketua Panitia Ida Bagus Purbanegara melaporkan, acara ini adalalah acara Paruman Dharma Upadesa yaitu sebuah organisasi Ida Pedanda Siwa Buddha se-Nusantara. Kegiatan ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali pada wuku Bala dan bergilir di setiap kabupaten/kota dan pelaksanaannya kali ini dilakukan di Kabupaten Badung. Dikatakan lebih lanjut, sulinggih yang hadir dalam kegiatan ini kurang lebih 500 sulinggih dari Bali, Lombok dan Jabodetabek serta 700 angga walaka sehingga keseluruhan diikuti oleh 1.200 orang peserta. Pihaknya juga menghaturkan terima kasih kepada Bupati Badung yang telah mendukung penuh kegiatan ini sehingga dapat terselenggara sesuai dengan harapan bersama.
Dalam paruman ini dibahas masalah pengaskaraan yang paling alit atau yang paling kecil dengan maksud apakah pengaskaraan itu perlu ada di setiap pengabenan termasuk bagaimana tata caranya sehingga nantinya dalam pelaksanaannya berdasarkan sastra agama karena Ida Pedanda  selaku sulinggih memberikan konsep konsep agama berdasarkan sastra yang ada. “Pengaskaraan itu penting karena pengaskaraan itu merupakan hal yang paling eksensial dalam pengabenan. Tetapi selama ini mungkin dianggap bahwa pengaskaraan itu upacara yang harus besar, padahal  dalam agama Hindu ada tingkatannya yaitu nista, madya dan utama sehingga tujuannya sekarang biar tidak ada keraguan dalam pelaksanan beragama namun semua dikaji berdasarkan sastra yang ada,” terangnya.

Sementara itu Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta pada kesempatan itu mengucapkan terima kasih khususnya kepada Ida Pedanda Siwa Buddha se-Nusantara yang sudah hadir pada paruman hari ini dan diharapkan dalam paruman ini ada penyempurnaan-penyempurnaan berkenaan dengan pelaksanaan yadnya khususnya Pitra Yadnya. Bupati mengatakan paruman ini merupakan langkah cerdas dalam rangka bagaimana umat Hindu dalam melaksanakan upakara, upacara yang baik dan benar sesuai dengan sastra maupun lontar.

Lebih lanjut dikatakan dalam penjajahan dahulu banyak sekali lontar kuno kita di ambil oleh penjajah  dan sampai ada di Den Haag Belanda. “Astungkara ada beberapa lontar yang bisa diambil kembali, salah satunya lontar Ida Pedanda Made Sidemen Geria Sanur yang selanjutnya dapat kita padukan sebagai dasar dalam penyempurnaan dan pelaksanaan upacara yadnya,” kata Bupati.

Sebagai bentuk bakti terhadap sulinggih Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta menyerahkan  punia berupa kampuh secara simbolis kepada sulinggih. *sar

BAGIKAN