• Gianyar (bisnisbali.com) – Bank Indonesia (BI) menilai pariwisata merupakan salah satu sektor yang sangat strategis dalam upaya penurunan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit). Tercatat pada kuartal II 2019 telah mencapai 8,4 miliar dolar Amerika Serikat atau setara dengan 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
“Dengan mendorong kinerja sektor pariwisata, kita sama-sama mengharapkan bahwa wisatawan asing akan makin tertarik untuk datang dengan lama tinggal dan nilai belanja yang berkualitas,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Trisno Nugroho pada pembukaan Festival Desa Wisata Nusantara dan Launching BUMDes bersama Gianyar Aman di Lapangan Desa Adat Mas, Ubud, Minggu (27/10). 
Menurutnya keberadaan pariwisata telah memberikan sumbangsih besar terhadap perekonomian nasional, termasuk di Bali. Berdasarkan hasil perhitungan Badan Pusat Statistik, sumbangsih aktivitas pariwisata terhadap ekonomi Bali di sektor jasa saja mencapai 48,3 persen.
“Tentunya bila hal ini didukung oleh sektor-sektor pendukung seperti manufaktur, akan dapat memberikan multiplier effect tidak hanya dari sisi pertumbuhan ekonomi, namun juga penciptaan lapangan kerja,” terangnya.
Oleh karenanya BI berharap sumbangan pariwisata dapat melengkapi upaya-upaya pemerintah pusat dalam mendorong ekspor, atau mengurangi impor demi perbaikan posisi neraca transaksi berjalan tersebut.
Trisno menyampaikan dalam rangka memberikan perhatian pada sektor pariwisata, pada 2019 ini, BI juga memberikan pendampingan teknis kepada beberapa desa-desa wisata yang ada di Bali, salah satunya di Gianyar yaitu Desa Tampaksiring. 
“Beberapa desa lain yang pernah kami berikan bantuan teknis yaitu Desa Paksebali di Klungkung dan Desa Pinge di Tabanan. Selain itu kami juga terus berupaya untuk memberikan sumbangsih kami dalam infrastruktur fisik melalui kerangka Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) yang ada,” jelasnya.
Fokus pendampingan yang dilakukan BI saat ini adalah pada upaya penciptaan 3A2P yaitu Access (peningkatan kualitas aksesibilitas ke lokasi-lokasi wisata), Amenities (dukungan manufaktur dan jasa terhadap industri pariwisata), dan Attractions (terciptanya atraksi-atraksi wisata yang berkualitas sehingga dapat menjadi insentif wisatawan khususnya mancanegara untuk hadir).
Diakui ketiga A tersebut didukung oleh 2P yaitu Promotion dan People, yaitu memberikan promosi yang gencar serta pembangunan kualitas SDM pariwisata yang handal. 
Sementara terkait Festival Desa Wisata Nusantara, BI memandang ini even tahunan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan dan mempertahankan keberadaan keunggulan pariwisata Bali, sebagai salah satu yang terdepan secara nasional.
“Sebagaimana yang kita telah ketahui bersama, bahwa pengembangan pariwisata khususnya di Bali, tentunya tidak hanya diorientasikan bagi pengembangan kesejahteraan masyarakat sekitar, namun juga agar tetap dapat menjaga dan memelihara nilai-nilai luhur serta kearifan lokal masyarakat, serta harmoni melalui tri hita karana (tiga sumber kebahagiaan),” harapnya. 
Oleh karena itu, perlu banyak pihak yang kiranya terlibat dalam peningkatan peran desa dalam pariwisata, tidak hanya dari sisi pelaku pariwisata saja namun juga unsur masyarakat adat. Dalam hal ini, sinergi yang baik antara adat dengan unsur pemerintah daerah khususnya melalui pengelolaan dana desa akan dapat memberikan hasil yang optimal.*dik
BAGIKAN