Tingkatkan Nilai Jual Produk, Garam Kusamba Disertifikasi

Sertifikat Indikasi Geografis ini bertujuan untuk melindungi garam Kusamba dari pemalsuan dan menjaga kualitas yang sudah sangat terkenal sejak masa Kerajaan Klungkung

15
Produksi garam tradisional Kusamba menjadi potensi andalan Kabupaten Klungkung.

Kabupaten Klungkung memiliki potensi kelautan yang cukup potensial. Secara geografis, Klungkung memiliki wilayah daratan dan Kepulauan Nusa Penida yang dipisahkan oleh laut. Sebagian masyarakatnya menggantungkan hidup dari sumber daya laut tersebut. Salah satunya menjadi petani garam. Desa Kusamba termasuk sentra garam tradisional yang diunggulkan oleh Kabupaten Klungkung. Lantas, apa saja yang dilakukan pemkab setempat untuk menjaga potensi unggulan tersebut?


GARAM merupakan salah satu produk pangan yang dihasilkan dari sumber daya laut. Desa Kusamba di Kabupaten Klungkung merupakan salah satu sentra produksi garam tradisional di Bali. Garam Kusamba sudah cukup dikenal oleh masyarakat. Guna menjaga potensi ini, Pemkab Klungkung telah melakukan berbagai upaya, di antaranya Sertifikasi Indikasi Geogafis.

Finalisasi Fasilitasi Pendaftaran Indikasi Geogafis Garam Kusamba oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) berlangsung di Kantor Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, pada pekan lalu. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta, Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Bekraf Ahmad Rekotomo, Kasubdit Pengelolaan HKI Immanuel Rano Rohi danTim Ahli Indikasi Geografis Riyaldi.

Sertifikat Indikasi Geografis ini bertujuan untuk melindungi garam Kusamba dari pemalsuan dan menjaga kualitas yang sudah sangat terkenal sejak masa Kerajaan Klungkung. Selain itu dengan sertifikasi ini akan dapat meningkatkan nilai ekonomis garam Kusamba sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani garam Kusamba khususnya dan masyarakat Kusamba sendiri pada umumnya.

Bupati Suwirta mengatakan, sejak dulu garam Kusamba sudah dikenal secara luas. Tidak hanya oleh masyarakat lokal, namun juga hingga ke luar pulau Bali bahkan mancanegara seperti Jepang. Namun sejauh ini garam Kusamba ini ternyata belum mampu memberikan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, belakangan ini produksi garam tradisional Kusamba cenderung hampir mati suri, padahal permintaan dan pangsa pasar yang cukup luas. “Apa yang dilaksanakan ini adalah upaya men-support garam Kusamba hingga bisa menjadi garam beryodium dan nanti bisa masuk ke pasar modern. Untuk itu branding dari garam Kusamba harus benar-benar kuat dan jangan sampai diakui oleh orang atau daerah lain. Atas dasar itulah, garam tradisional Kusamba didaftarkan lewat indikasi geografis,” ungkap Bupati Suwirta.

Di samping promosi dan pemasaran, pihaknya juga berharap nantinya nilai/harga garam Kusamba akan menjadi lebih tinggi sehingga masyarakat berminat kembali menjadi petani garam. Untuk mendukung program ini, Bupati Suwirta mengaku sudah banyak memberikan tanah negara melalui Kantor Pertanahan. Harapannya nanti masyarakat sekitarnya bisa memanfaatkan tanah tersebut untuk kembali menjadi petani garam tradisional Kusamba. “Tidak hanya produk garamnya, namun juga proses produksinya yang masih menggunakan metode tradisional dan bisa dikatakan primitif tentu bisa menjadi magnet bagi pariwisata,” sebutnya.

Sementara itu Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Bekraf, Ahmad Rekotomo mengatakan, garam tradisional Kusamba telah didaftarkan ke Bekraf dan ini merupakan tahap final dari proses sertifikasi. “Dengan didaftarkannya garam Kusamba ini, otomatis akan dapat meningkatkan daya saing produk kreatif ini di pasaran,” kata Ahmad Rekotomo.

Dikatakan, saat ini harga garam Kusamba alami di tingkat petani sebesar Rp20 ribu per kilogram. Harga ini berlaku untuk garam Kusamba kualitas I. Garam Kusamba kualitas II seharga Rp10 ribu per kilogram. Secara umum setiap petani garam dapat memproduksi 15-20 kg garam Kusamba per harinya. Sekitar tiga perempat bagiannya adalah garam Kusamba Bali kualitas I, dan sekitar seperempat bagian lainnya merupakan garam Kusamba kualitas II.

Sebagian garam Kusamba, terutama yang kualitas II diolah kembali menjadi garam Kusamba beryodium dengan menambahkan yodium. Garam Kusamba beryodium saat ini dijual dengan merek “Uyah Kusamba Bali” seharga Rp23 ribu per kilogram dalam berbagai ukuran kemasan sesuai permintaan konsumen. *dar

BAGIKAN