“Hantui” Pertumbuhan Ekonomi dan Investasi , Menteri Diharapkan Atasi Pengaruh Geopolitik Dunia

Pengaruh geopolitik dunia diprediksi masih akan menghantui pertumbuhan ekonomi dan investasi ke depannya.

24

Denpasar (bisnisbali.com) –Pengaruh geopolitik dunia diprediksi masih akan menghantui pertumbuhan ekonomi dan investasi ke depannya. Kabinet jilid II yang akan terbentuk di tengah kompromi aspek politik dan profesionalisme yang porsinya 45: 55 persen tidak akan terlalu banyak diharapkan bisa memperbaiki keadaan perekonomian dan investasi dalam waktu singkat.

“Geopolitik dunia di antaranya ketegangan perang dagang Cina-Amerika Serika yang masih belum berakhir, persoalan brexit Inggris Eropa yang belum ada solusi hingga krisis kawasan regional ASEAN,” kata pemerhati ekonomi Viraguna Bagoes Oka di Sanur, Selasa (22/10) kemarin.

Sementara di dalam negeri masih dibayangi neraca perdagangan dan investasi nasional yang masih menghadapi persoalan birokrasi pemerintah, di samping masih diperlukannya dukungan penuh dari parlemen dari partai koalisi. Mantan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali ini juga menilai dampak ancaman resesi dan desrupsi masih melanda Indonesia termasuk Bali saat ini juga mempengaruhi pertumbuhan perekonomian dan investasi.

Pemerintah masih menghadapi persoalan multidimensi di bidang kepariwisataan yang melemah, pertanian yang belum bangkit, ekonomi kerakyatan atau UMKM Bali menghadapi tantangan persaingan makin ketat di tengah persaingan daya beli, konsumsi menurun serta gaya hidup yang pilihannya makin luas.

Kendati demikian, VBO biasa ia disapa dengan tekad dan komitmen presiden terpilih untuk membangun SDM unggul, meningkatkan investasi, penyederhanaan birokrasi serta UU pemberdayaan lapangan kerja serta UU UMKM adalah modal kuat untuk harapan lebih baik menuju Indonesia maju.

“Dukungan dunia internasional serta rekonsiliasi nasional telah bisa terwujud tercermin pada saat acara pelantikan Presiden Jokowi-Ma’ruf memberi sinyal positif menuju Indonesia yang lebih baik,” paparnya.

Kini harapan pasar adalah pertimbangan yang dijadikan landasan oleh Presiden Jokowi dalam memilih hingga melantik menteri harus memiliki visi misi dan tekad pembangunan Indonesia ke depan. Itu dalam rangka mewujudkan Indonesia maju 2045 (100 tahun sejak kemerdekaan), sehingga pemilihan pembantu presiden dalam 5 tahun ke depan diperlukan seleksi yang sangat detail, hati-hati, berbasis track record, komitmen, kompetensi, kerja nyata, ketangguhan, kerja sama dengan ukuran KPI yang terukur.

VBO juga menyampaikan untuk duduk di kabinet jilid II saat ini memang sangat berbeda dengan kabinet sebelumnya. Saat ini negara sedang menghadapi persoalan ancaman resesi global, regional dan serta kompleksitas persoalan nasional terkait dengan kemiskinan, lapangan kerja, kestabilan harga serta investasi/ neraca perdagangan yang masih defisit dan lainnya. Belum lagi kata dia, di tengah etos kerja, pola pikir dan budaya kerja SDM, termasuk Bali lulusan pendidikan vocational atau pendidikan tinggi yang umumnya masih belum siap pakai atau berkinerja produktif. *dik

BAGIKAN