UWRF 2019 Beri Ruang Penulis Bali dan Program untuk Bali

Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) kembali digelar pada tahun ini untuk yang ke-16 kalinya pada 23-27 Oktober 2019.

21
BERI KETERANGAN - Ketua Yayasan Mudra Swari Saraswati Ketut Suardana (kiri) dan General Manager UWRF Kadek Purnami (dua dari kiri) memberikan keterangan terkait pelaksanaan Ubud Writers & Readers Festival 2019.

Denpasar (bisnisbali.com) –Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) kembali digelar pada tahun ini untuk yang ke-16 kalinya pada 23-27 Oktober 2019. Festival sastra yang bertahan paling lama di Indonesia ini diprakarsai oleh Yayasan Mudra Swari Saraswati dan bahkan telah diakui sebagai salah satu dari lima festival sastra terbaik dunia untuk 2019 versi The Telegraph UK.

Dengan mengangkat tema “Karma”, UWRF 2019 menghadirkan lebih dari 180 pembicara dari 30 negara dan lebih dari 170 program mulai dari panel diskusi, lokakarya, acara spesial, pemutaran film, peluncuran buku, pameran seni, dan lainnya.
“Seperti tahun-tahun sebelumnya, UWRF selalu memberikan ruang bagi para penulis lokal untuk terlibat dalam  tiap programnya. Selain Debby Lukito Goeyardi dan IGA Darma Putra, UWRF akan menghadirkan beberapa penulis, seniman, cendekiawan, dan pegiat asal Bali maupun penulis Indonesia yang berdomisili di Bali,” kata Ketua Yayasan Mudra Swari Saraswati Ketut Suardana di Denpasar, baru-baru ini.
Sama halnya dengan ruang bagi penulis lokal, UWRF juga tidak ketinggalan menghadirkan beberapa panel yang berkaitan dengan Bali, seperti Bali’s Art Activist bersama para pegiat seni Bali, How Can Bali Survive  yang membahas langkah-langkah untuk bertahan dari perubahan sosial, budaya, dan ekologis yang masif di Bali, serta Bali’s Poet Priests yang merefleksikan pengaruh dan peninggalan para kawi-wiku (penyair-pendeta), terutama dalam penggunaan sastra sebagai media untuk mengasah pikiran dan menenangkan jiwa.

“Selain itu, UWRF juga khusus menghadirkan sesi percakapan mendalam bersama pendongeng legendaris asal Bali yang telah berkarya selama hampir empat dekade, Made Taro, dalam Made Taro: A Lifetime of Storytelling,” papar General Manager UWRF Kadek Purnami.
Program kategori lain yang berkaitan dengan Bali, yang tidak kalah menarik misalnya lokakarya budaya Basa Bali Breakfast hingga The Language of Offering. Pengunjung Festival berkesempatan untuk mempelajari bahasa Bali dasar hingga membuat canang sari. Children & Youth Program bersama Marmar Herayukti yaitu Eco-Friendly ogoh-ogoh, memungkinkan peserta panel mempelajari dasar anyaman bambu dengan menggunakan kertas daur ulang untuk membuat ogoh-ogoh yang ramah lingkungan. Ada pula pameran seni yang berkaitan dengan Bali. *dar

BAGIKAN