Kekeran Berambisi Jadi Desa Wisata Ramah Anak

Mengembangkan potensi desa guna menjadi daya tarik wisata, jadi daya tarik tersendiri bagi sejumlah desa di Kabupaten Tabanan sekarang ini.

80

Tabanan (bisnisbali.com)Mengembangkan potensi desa guna menjadi daya tarik wisata, jadi daya tarik tersendiri bagi sejumlah desa di Kabupaten Tabanan sekarang ini. Salah satunya adalah Banjar Kekeran, Desa Penatahan, Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan yang dipelopori ibu-ibu merupakan juga Komunitas Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali Woman Crisis Center yang tengah giat-giatnya mewujudkan Kekeran sebagai desa wisata ramah anak.

Setelah membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), ibu-ibu yang dikoordinatori oleh Ni Nengah Budawati, S.H. M.SH.,yang juga selaku penanggung jawab program dan Penasehat LBH Bali WCC selalu mengenjot dengan melaksanakan berbagai kegiatan yang bersifat mengedukasi. “Kami juga melaksanakan workshop, selain aktivitas seni dan lingkungan,” kata Budawati di sela-sela diskusi dengan tema “Membangun Media Komunikasi Tentang Potensi Desa Kerentanan dan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Menuju Desa Wisata Ramah Anak,” belum lama ini.
Ita Sutiani, penangung jawab Sarana dan Prasana Pokdarwis Desa Kekeran mengatakan, ibu-ibu yang kebanyakan berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini memang memiliki tekad besar untuk mewujudkan desa wisata.

Selain keindahan alam desa, kebiasaan masyarakat setempat yang unik juga menjadi modal sebuah destinasi. Sistem subak masih asri, budaya ngulig boreh (membuat lulur tradisional), nanusin (membuat minyak secara tradisional), membuat jaja Bali dan lainnya. “Kami juga memiliki tradisi unik tiap penampahan Galungan,” akunya.
Dalam tiap kepala keluarga di desa itu, memiliki glebeg (tempat menyimpan padi). Di bawahnya, biasa dijadikan tempat ngebat tiap Hari Raya Galungan, selain untuk bersantai bersama keluarga. Saat Galungan, semua anggota keluarga melakukan tradisi ngebat di tiap glebeg mereka. Suasananya penuh kebersamaan dan kekeluargaan, karena dilakukan secara gotong-royong.
“Masyarakat biasa membuat jaja tradisional,  timbungan, dan entil. Kami juga memiliki kebiasaan menyimpan jaja sabun di dalam bungbung (bambu),” paparnya.*man

BAGIKAN