Jagung Gembal Dibangkitkan Kembali

Bicara soal potensi pangan di Bali Utara sangatlah melimpah. Salah satu desa penghasil pangan yang kini sedang mengembangkan kembali budi daya shorgum atau yang lebih dikenal dengan jagung gembal adalah Desa Tembok, Kecamatan Tejakula Buleleng. 

22
Jagung gembal ditunjukkan oleh Dewa Komang Yudi Sastra.

Singaraja (bisnisbali.com) –Bicara soal potensi pangan di Bali Utara sangatlah melimpah. Salah satu desa penghasil pangan yang kini sedang mengembangkan kembali budi daya shorgum atau yang lebih dikenal dengan jagung gembal adalah Desa Tembok, Kecamatan Tejakula Buleleng.

Tanaman jagung gembal ini keberadaannya sudah sangat langka dan jarang dibudidayakan. Padahal jagung ini memiliki kandungan karbohidrat dan serat tinggi. Bahkan protein yang terkandung di dalam jagung gembal lebih tinggi daripada nasi, juga tumbuhan ini sangat baik untuk penderita diabetes.

Jagung gembal ini juga terbilang unik, selain bentuknya yang tidak seperti jagung pada umumnya. Tanaman ini juga ternyata menjadi salah satu elemen yang dipakai dalam lambang Kota Singaraja, di mana Patung Singa Ambararaja yang merupakan ikonnya Kota Singaraja terlihat mencengkram beberapa buah jagung gembal di kaki kanannya.

Hal inilah yang juga mendasari aparat Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng untuk menanam kembali jagung gembal yang kini dikembangkan wilayah Banjar Dinas Tembok.

Perbekel Desa Tembok, Dewa Komang Yudi Sastra belum lama ini mengatakan, jagung gembal mulai dibudidayaka sejak pada Mei 2019 lalu dilahan seluas 30 meter per segi. Sementara untuk bibit jagung ia mengaku membelinya melalui toko online seharga Rp 25 ribu per kilogramnya.

Penanaman jagung gembal ini diakui Sastra berawal dari coba-coba. Tak disangka, setelah bibit ditanam, jagung gembal dapat tumbuh dengan subur. “Awalnya hanya coba-coba. Hanya ingin tau cocok nggak ditanam di Desa Tembok. Ternyata cocok, bahkan tumbuh dengan subur. Padahal jarang diberi nutrisi seperti air dan pupuk,” terang Sastra.

Mengingat jagung berbentuk unik ini dapat tumbuh dengan subur di wilayah Banjar Dinas Tembok, maka ke depan penanamannya sebut sastra akan lebih diseriuskan dan diperbanyak lagi. “Percobaan pertama buahnya sudah kami panen. Ke depan akan kami tanam lagi dengan skala yang lebih serius,” ucapnya.

Sejauh ini diakuinya, pengembangan jagung gembal ini masih menjumpai kendala terkait cara pengelolaanya. Apakah pengolahan jagung gembal ini baru bisa diolah menjadi nasi jagung atau menjadi tepung. “Sekarang fokus menanam dulu, sembari kita cari peluang pasarnya,” tutupnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Buleleng, I Made Sumiarta mengungkapkan  sempat berdiskusi dengan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana untuk menghidupkan lagi eksistensi jagung gembal di Buleleng. Hanya saja saat ini pemerintah masih terkendala dengan pembibitan yang belum ada di wilayah Buleleng. Namun kendati demikian,

tumbuhnya kembali jagung gembal di wilayah Banjar Dinas Tembok ini sangat diapresiasi olehnya.

“Karena berkaitan dengan eksistensi lambang kita, Bupati juga pernah memperbincangkan agar tanaman ini tetap ada di Buleleng. Selain itu tanaman ini juga memiliki potensi yang cukup bagus. Bisa menjadi olahan pangan di luar negeri, serta bisa dipakai untuk bahan energi terbarukan namun memerlukan teknologi yang canggih,” katanya. * ira

BAGIKAN