I Made Dwi Mertha Adnyana Perbaiki Nutrisi Tanah  

KONDISI tanah pertanian di Bali sudah memburuk akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan, turunnya kondisi lingkungan dan berbagai limbah pencemar lain.

15

KONDISI tanah pertanian di Bali sudah memburuk akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan, turunnya kondisi lingkungan dan berbagai limbah pencemar lain. Hal itu menurut I Made Dwi Mertha Adnyana, mahasiswa Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar, mengakibatkan tanaman pangan yang dihasilkan juga tidak sehat yang jika dikonsumsi dalam jangka panjang berpotensi mengakibatkan stunting (gizi buruk).

Pemikirannya tersebut membawa Dwi Mertha mengharumkan nama Bali di kancah nasional. Dwi, sapaan akrabnya, berhasil menumbangkan 277 kompetitor dari perguruan tinggi se-Indonesia, pada ajang Lomba Karya Tulis Mahasiswa Nasional 2019 di Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimatan Timur, 19 Oktober 2019.

Mahasiswa Semester V Prodi Biologi ini menyajikan karya berjudul “Potensi Limbah Domestik Sebagai Biofertilizer Guna Memperbaiki Kualitas Tanah Menuju Pertanian Berkelanjutan”. Di balik karyanya itu, Dwi memiliki mimpi besar, yakni memperbaiki nutrisi tanah pertanian di Bali, guna mencegah stunting (gizi buruk) pada generasi penerus Pulau Dewata ke depan.

Lewat karya yang digagasnya, putra kedua dari pasangan I Gede Ketut Sunatra dan Ni Ketut Sariani ini ingin petani beralih dari pupuk kimia ke organik. “Saya menawarkan ide memanfaatkan limbah domestik (sampah rumah tangga dan pasar) untuk memunculkan produk baru berupa biofertilizer (pupuk hayati) yang nantinya diperoleh 2 hasil yakni pupuk  padat dan pupuk cair dengan bantuan teknologi yang masih kami rancang,” kata Dwi di Denpasar, Selasa (22/10).

Dwi mengaku, pupuk temuannya baik yang padat dan cair sudah pernah diuji ke Balai Pertanian di Bogor, hasilnya dalam satu bulan sudah terlihat. “Ciri-cirinya sudah bermunculan mikroorganisme dalam tanah seperti cacing dan jamur yang sangat diperlukan oleh tanah. Ini berbeda dengan pupuk kimia yang malah membunuh mikroorganisme dalam tanah,” katanya.

Jika mesin rancangannya sudah selesai, Dwi memprediksi mampu menghasilkan 80 kg pupuk padat dan 250 liter pupuk cair. Ia mengharapkan sinergi dari pemerintah atau instansi terkait tentang penelitian lanjutan temuannya tersebut. “Kalau sudah terbukti, saya ingin setiap desa memiliki mesin ini. Di samping menghemat pembelian pupuk sintesis, juga bermanfaat menjaga kelestarian lingkungan dan berdampak bagi kesehatan masyarakat,” katanya.

Dwi memang dikenal multitalenta dan mandiri. Di sela kesibukannya mengikuti perkuliahan dan jadwal lomba yang padat, ia tetap mengais rejeki sampingan sebagai penari freelance dan membuka jasa rias Bali.

“Bapak saya sempat lumpuh, kerjanya cuma tukang parkir di Pasar Umum Negara. Sedangkan ibu buruh serabutan (tukang suun) di pasar yang sama. Jadi saya harus pintar-pintar mengelola uang karena di Denpasar juga kos,” katanya. *pur

BAGIKAN