Efisien, Pedagang Dukung Rehab Pasar Gunung Agung

Rencana rehab berupa penambahan atap kap baja untuk pedagang pelataran di Pasar Gunung Agung menjadi hal yang ditunggu-tunggu

21
Aktivitas di Pasar Gunung Agung  (wid)

Denpasar (bisnisbali.com) – Rencana rehab berupa penambahan atap kap baja untuk pedagang pelataran di Pasar Gunung Agung menjadi hal yang ditunggu-tunggu. Selain sebuah kebutuhan dan penataan tampilan pasar lebih baik, penambahan atap ini juga dikatakan lebih efesien.

Salah seorang pedagang yang ditemui di Pasar Gunung Agung Wayan Nik mengatakan, selama ini pedagang di Pasar Gunung Agung menggunakan atap dari terpal. Hal ini dikatakannya cukup ribet yang setiap hari harus bongkar pasang. Di samping itu, perlindungan dari panas dan hujan tidak maksimal. “Harganya juga mahal, sekitar Rp600.000 per lembar yang hanya bertahan 6 bulan. Jadi kalau dihitung per tahun kena Rp1,2 juta untuk biaya terpal saja,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh pedagang lainnya, Ni Wayan Sukarti. Dirinya berharap pembangunan atap untuk para pedagang pelataran ini agar segera dilakukan, terlebih musim hujan akan datang. “Kalau sudah ada atap permanen kan kita tinggal masuk saja. Tidak perlu bongkar-pasang. Perlindungan juga maksimal,” jelasnya.

Dirinya yang telah lebih dari 5 tahun berjualan di Pasar Gunung Agung berharap, mekanisme kepengurusan izin terhadap rehab pasar ini tidak berbelit-belit. Terlebih dengan menggunakan biaya swadaya pedagang. Pembangunan atap bisa segara dilakukan.

Sementara itu, Koodinator Pedagang Ikan di Pasar Gunung Agung Sugiantoro mengatakan, saat ini pembangunan masih dalam proses yang menjadi kesepakatan pedagang dengan alasan kenyamanan. “Kita tinggal menunggu pelaksanaanya yang mekanisme izin sudah selesai,” ungkapnya.

Sugiantoro mengatakan, dalam pembangunan ini memang dibenarkan menggunakan dana swadaya pedagang yang masing-masing mengeluarkan Rp8,7 juta. Dalam hal ini, pedagang juga akan difasilitasi oleh koperasi pasar, sehingga bagi pedagang yang tidak memiliki uang kontan bisa membayar dengan mengangsur. “Semua sudah menjadi kesepatan dari kami (pedagang), untuk kenyamanan berjualan,” imbuhnya. *wid

BAGIKAN