Perbankan di Bali menyalurkan sebagian besar kreditnya kepada sektor rumah tangga (RT), meskipun eksposur kredit perbankan pada korporasi hanya 31,02 persen. Kerentanan yang terjadi pada sektor korporasi ini tetap perlu diwaspadai. Kenapa?


EKSPOSUR adalah objek yang rentan terhadap risiko dan berdampak pada kinerja perusahaan apabila risiko yang diprediksi benar-benar terjadi. Kewaspadaan perlu dilakukan karena mempertimbangkan kondisi keuangan sektor rumah tangga yang menjadi eksposur dominan kredit perbankan di Bali, juga dipengaruhi oleh kinerja sektor korporasi.

Sektor korporasi dapat menentukan kinerja sektor rumah tangga sisi penghasilan dan penyerapan tenaga kerja. Bank Indonesia (BI) Bali mencatat kredit perbankan pada sektor korporasi di Pulau Dewata pada triwulan II 2019 mencapai Rp31,29 triliun atau tumbuh 14,46 persen year-on-year, meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,38 persen year-on-year. Akselerasi tersebut terutama bersumber dari peningkatan kredit pada semua jenis penggunaan pada triwulan laporan.

Kredit modal kerja tumbuh 12,26 persen year-on-year lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 4,71 persen year-on-year. Kredit konsumen juga meningkat dari -34 ,77persen pada triwulan I 2019 menjadi tumbuh 20,10 persen. Demikian halnya dengan kredit investasi korporasi mengalami akselerasi dari tumbuh 5,89 persen pada triwulan I 2019 menjadi 15,65 persen pada triwulan II 2019.

“Meskipun terjadi kenaikan kinerja kredit korporasi, akselerasi tersebut diiringi oleh penurunan kualitas kredit yang tercermin dari peningkatan rasio kredit bemasalah atau nonperforming loan (NPL) dari 7,95 persen pada triwulan I 2019 menjadi 8,63 persen pada triwulan II 2019,” kata Kepala KPw BI Bali Trisno Nugroho.

Menurutnya, peningkatan NPL terjadi pada jenis penggunaan modal kerja dan konsumsi. NPL kredit modal kerja korporasi meningkat dari 7,98 persen pada triwulan lalu menjadi 10,09 persen, sedangkan NPL kredit konsumsi meningkat dari 0,00 persen pada triwulan lalu menjadi 5,96 persen.

“Peningkatan NPL kredit korporasi perlu mendapatkan perhatian khusus mengingat telah melebihi nilai threshold NPL 5 persen,” ujarnya.

Dari sisi sektoral, BI menilai penyaluran kredit lapangan usaha akomodasi dan makan minum (akmamin) meningkat tajam, walaupun kinerja dalam PDRB yang melambat. Kredit korporasi pada lapangan usaha tumbuh 20,42 persen pada triwulan II 2019. Tumbuh jauh lebih tinggi dibanding triwulan lalu 7,23 persen.

“Sayangnya peningkatan kredit tersebut diiringi dengan menurunnya kualitas kredit korporasi yang tercermin dari peningkatan NPL dari 4,68 persen pada triwulan sebelumnya menjadi 4,98 pada triwulan laporan,” terangnya.

Lapangan usaha akomodasi makan dan minum memiliki pangsa terbesar dalam PDRB Bali yaitu 23,28 persen. Pada triwulan I 2019 dilihat dari sisi sektoral lapangan, usaha pertanian atau pangsa terbesar kedua dalam PDRB Bali yaitu 13,68 persen pada triwulan laporan mengalami perbaikan pertumbuhan penyaluran kredit seiring dengan kinerja pertanian dalam PDRB yang terakselerasi kredit korporasi pada lapangan usaha pertanian meningkat dari minus 40,97persen pada triwulan 1 2019 menjadi 27,45 persen.

Penyaluran kredit pertanian yang membaik ini, kata Trisno, diiringi kualitas kredit korporasi yang masih terjaga pada level 0 persen sejalan dengan akselerasi kinerja lapangan usaha perdagangan pada PDRB. Penyaluran kredit korporasi lapangan usaha ini turut menunjukkan peningkatan dari 3,67 persen pada triwulan lalu menjadi 8,57 persen. Akselerasi penyaluran kredit tersebut diiringi dengan peningkatan kualitas kredit yang tercermin pada penurunan NPL pada triwulan laporan 18,71 persen lebih rendah dibanding triwulan lalu 20,41 persen. Sementara itu kredit lapangan usaha konstruksi menunjukkan peningkatan penyaluran kredit korporasi sejalan dengan akaseleras kinerjanya dalam PDRB pada triwulan berjalan. Penyaluran kredit korporasi lapangan usaha konstruksi pada triwulan II 2019 tumbuh 5,74 persen terakselerasi dibanding triwulan lalu 6,73 persen. Namun kualitas kredit lapangan usaha ini menurun yang tercermin pada peningkatan NPL dari 3,94 persen pada triwulan I 2019 menjadi 10,66 persen pada triwulan II 2019. *dik

BAGIKAN