Bupati Made Gianyar Monitoring Warga Transmigrasi Bangli  di Sulawesi Tengah

Kegiatan monitoring  warga asal Bangli di daerah transmigrasi merupakan kegiatan rutin Pemerintah Kabupaten Bangli untuk melihat secara langsung situasi dan kondisi para transmigran.

42

Bangli (bisnisbalicom) –Kegiatan monitoring  warga asal Bangli di daerah transmigrasi merupakan kegiatan rutin Pemerintah Kabupaten Bangli untuk melihat secara langsung situasi dan kondisi para transmigran.

Dalam Kunjungannya Bupati Bangli juga mengajak Kadissos, Kadis Kesehatan, Kepala BKPAD, Kadis PMD, Kadis  Kesehatan, Kadis Koperasi UMKM, Nakertran, Kalak BPBD, Kadisdukcapil, Kadisperindag, Kadisparbud, Kadis Perhubungan Camat  se-Kabupaten Bangli,Sekretaris Pol PP Damkar, Kabag, Umum, Kabag Pembangunan, Perbekel Desa Jehem.
Kunjungan dan  bersilaturahmi dengan masyarakat yang berada di daerah transmigrasi di Desa Laantula Jaya, Kecamatan Wita Ponda Kabupaten Morowali Propinsi Sulawesi Tengah.
Bupati Bangli I Made Gianyar,  S.H. MHum  dalam kunjungannya selama 4 hari , mulai (15-18 Oktober)  juga mengadakan pengobatan gratis kepada warga setempat.

Rombongan Bupati Bangli sebelumnya disambut di Bandara Morowali oleh Camat Wita Ponda H. Arsail didampingi Kadisdikpora Muhamad Adzan, Kepala Desa Laantula Jaya Adiyono  selanjutnya  diterima di Balai Desa setempat.
Kepala Desa Laantula Jaya Adiyono  dalam sambutannya menyampaikan rasa harunya kepada Bupati Bangli yang masih peduli dengan warganya yang jauh di rantauan.
“Awalnya warga tranmigrasi pada tahun 1986 berjumlah 500 KK terdiri dari warga Jawa,Lombok dan Bali khususnya warga Bangli sebanyak 25 KK. Secara umum kini jumlah warga selama 33 tahun sudah 1.227 KK dengan hampir 4 ribu jiwa,” terangnya. Kedatangan Bapak Bupati sangat luar biasa, kenapa kemungkinan menurutnya seperti pepatah agar jangan kacang lupa akan kulitnya atau seperti bapak menengok anaknya yang dulu ditransmigasikan.

Lebih lanjut disampaikan khusus warga Bangli dari 25 KK menjadi 72 KK dengan 251 jiwa. Dalam kesempatan tersebut juga Kepala Desa Laantula Jaya Adiyono atas nama warga Bangli meminta seperangkat gong untuk dipergunakan saat adanya upacara Piodalan di Pura.Dalam kesempatan itu Bupati Bangli bersama rombongan memberikan motivasi kepada warga transmigrasi khususnya warga Bangli dan umumnya warga Bali agar dalam kehidupannya di tempat yang baru ini mampu membawa perubahan pada dirinya sendiri.

Pihaknya juga berpesan agar para warga transmigrasi bisa berbaur dan bersatu dengan penduduk lokal, dan bisa bersinergi dengan pemerintah dalam melakukan percepatan pembangunan daerah karena salah satu daerah yang berpotensi cepat mengalami perkembangan dan kemajuan adalah daerah transmigrasi.

 “Intinya di mana bumi dipijak disana langit dijunjung harus dijalankan. Warga Bangli datang ke sini untuk menjadi penghidupan, datang ke sini bukan mencari musuh, ” tegasnya. Terkait dengan permasalahan permintaan sarana gong yang dihadapi pihaknya  berjanji untuk hibah Kabupaten Bangli kepada pihak Desa Laantula Jaya menjadi aset desa diperuntukkan untuk krama Bali.
Dilanjutkan ramah tamah di  rumah salah satu warga Made Oka Pande sekaligus menyerahkan bantuan lewat urunan dari masing-masing OPD yang terkumpul sebanyak Rp 70 juta  yang peruntukannya untuk modal koperasi  sebesar Rp 50 juta dan Rp 20 juta disumbangkan di 4 pura masing -asing sebesar Rp 5 juta. Ada pun pura yang akan diberikan sumbangan yakni Pura Adat Eka Prana, Pura Adat Satia Buana, Pura Adat Eka Karsa dan Pura Adat Tirta Wangi di mana pengemponnya warga Hindu asal Jawa yang diterima langsung oleh Ketua Peguyuban warga Bangli I Wayan Eka Ariawan warga asal Banjar Tingkad Batu, Desa Jehem,Tembuku.

Saat itu Bupati Made Gianyar berpesan agar koperasi yang akan terbentuk diberi nama Koperasi Gita Santhi Krama Bali pungkasnya.
Sementara itu Camat Wita Ponda H.Arsail menyampaikan apresiasinya  kepada Pemkab Bangli atas kedatangan Bupati Bangli yang turun langsung ke daerah transmigran. “Kami mengucapkan syukur dan berterima kasih atas kedatangan Bapak Bupati Bangli, kami amat bangga dengan kunjungan ini, walaupun masyarakat kami berbeda suku, agama dan  budaya, ada dari Jawa, Bali, Lombok, dan penghasilan masih kecil namun toleransi antarumat sangat harmonis, ” jelasnya.*ita

BAGIKAN