Suksma Bali Ajak Sektor Pariwisata Selamatkan Air Bali

Suksma Bali  menggelar simposium bertajuk "Menyelamatkan dan Menjaga Keberlangsungan Air Bali".

26
SUKSMA BALI-Persiapan simposium yang dilaksanakan Suksma Bali  guna menyelamatkan dan menjaga keberlangsungan air Bali.

Denpasar (bisnisbali.com) –Suksma Bali  menggelar simposium bertajuk “Menyelamatkan dan Menjaga Keberlangsungan Air Bali”. Ketua Suksma Bali, Kamis (17/10) mengatakan, melalui simposium mengajak industri pariwisata memecahkan masalah keterbatasan air di Bali.

Melalui simposium ini, Suksma Bali akan merumuskan sebuah rekomendasi. Salah satu poinnya, soal upaya nyata pelaku pariwisata dalam menyelamatkan air Bali.
Simposium diikuti para tokoh yang akan memberikan pandangan dan usulannya tentang bagaiman cara menyelematakan air Bali.
Dalam simposium dibahas  filosogi air dan data daya dukung status air Bali,  tantangan dan hipotesa dan  explain dan rencana dijalankan serta dilanjutkan dengan deklarasi bersama. Darma Suyasa menyampaikan dalam deklarasi  yang paling cepat bisa dilakukan adalah membuat biopori atau sumur-sumur resapan di masing-masing properti.
Ia meminta industri perhotelan berkomitmen untuk melaksanakan penanaman kembali, reboisasi. Hal itu dihitung dari berapa meter kubik air yang dihabiskan sebulan, ekuivalen dengan berapa pohon yang harus ditanam.

Darma Suyasa meyakinkan suksma bali merupakan bagian gerakan moral. “Jika pada tahun lalu suksma bali menyoroti tentang  pengurangan sampah plastik maka tahun ini tentang Panca Kriyamana yang bisa menghendos pemeritah menyekamatkam air Bali,” tegasnya. Akedemisi Universitas Udayana, Dr. Ni Luh Kartini mengatakan, Bali memiliki 4 tower yang masih menyimpan air, yaitu Danau Batur, Danau Beratan, Danau Buyan dan Danau Tamblingan serta Situ Yeh Malet di Karangasem. Permasalahan terbesar adalah, danau itu mengalami pencemaran sampah dan sumber-sumber air itu mengalami degradasi dan erosi. Terjadi pengurasakan akibat sampah plastik ke dalam danau sehingga mesi dilakukan penegakan aturan termasuk pengaturan sempadan danau.

Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Bali Nusra, Rizal Uzzaman mengakui, Bali sudah mengalami permasalahan untuk ketersediaan air bawah tanah dan air permukaan. Hasil pemetaan data ekosistem Pulau Bali menunjukkan, sebesar 66 persen lebih daerah dengan potensi air skala sedang, dan 29,72 persen kategori rendah.
Air permukaan di Bali hanya tersedia 3,5 miliar meter kubik. Sementara itu,  kebutuhan secara kumulatif sebesar 3,8 miliar meter kubik.
Rizal melihat alih fungsi lahan menjadi penyebab utama menurunnya ketersediaan air tanah, dan permukaan di Bali. Di daerah Badung perubahan fungsi lahannya, lebih dari 50 persen daerah-daerah yang potensi pangan itu berkurang, karena ada pembangunan. Untuk itu, diperlukan langkah konkrit untuk mengantisipasi dampak negatif dari defisit air. Salah satunya membuat cadangan air yang masuk kedalam tanah. “Ketersediaan air masih menjadi permasalahan krusial bagi Bali. Jika dikomparasi dengan  keperluan masyarakat tidak sebanding dengan debit air yang tersedia,” jelasnya.

Kepala Seksi Operasi dan Pemeliharaan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida, I Ketut Alit Sudiastika menjabarkan, debit air yang tersedia sebesar 101,23 meter kubik per detik. Sementara sesuai data per Agustus 2019, keperluan air masyarakat mencapai 119,96 meter kubik per detik. Maka itu, terjadi defisit air sebesar 18,73 meter kubik per detik. Sedangkan, potensi air yang ada yang mengalir langsung ke laut.

“Ini hasil data kami yang terakhir 216,87 meter kubik per detik,” ucapnya.
Ketut Alit menilai walaupum telah terjadi defisit air, tetapi masyarakat tidak mengeluh. Hal itu karena perilaku masyarakat yang terbilang irit dalam pemakaian air. Semisal asumsi pemakaian air per hari 60 liter per detik, tetapi barangkali mereka hanya menggunakan rata-rata 50 liter per detik.*kup

BAGIKAN