Perusda Bali Kembangkan  50 Hektar  Pisang Cavendish

Perusahaan Daerah (Perusda) Provinsi Bali November 2019 akan memulai budi daya pisang cavendish di atas lahan milik Pemprov di Pekutatan, Jembrana seluas 50 hektar.

18

Denpasar (bisnisbali.com) –Perusahaan Daerah (Perusda) Provinsi Bali November 2019 akan memulai budi daya pisang cavendish di atas lahan milik Pemprov di Pekutatan, Jembrana seluas 50 hektar. Hal tersebut untuk memenuhi kebutuhan pasar, akan buah lokal yang berkualitas.

Direktur Perusda Provinsi Bali Suryawan Dwimulyanto di Denpasar, mengatakan, dipilihnya pisang cavendish karena memiliki keunggulan dibanding pisang lokal lain, seperti rasa lebih manis, visual lebih cantik, kandungan gizi tinggi, daya tahan serta yang terpenting nilai jualnya yang sangat tinggi. Pisang berkulit kuning cerah ini juga menjadi incaran konsumen kelas atas, sehingga harga jualnya jauh lebih tinggi.

Guna memantapkan pilot project kebun pisang itu, Suryawan mengaku menggandeng mitra dari Lampung yang telah memiliki balai penelitian sendiri. “Melihat keunggulan pisang cavendish, Gubernur memerintahkan untuk  mencoba ditanam di Bali sehingga muncullah ide membuat perkebunan pisang ini, yang sudah dilakukan persiapan dan kajian sejak Januari lalu,” kata Suryawan.

Ia mempersilakan petani Bali belajar di kebun itu sembari menggali ilmu dari para ahli mitra perusda. Keuletan yang menjadi ciri khas petani Bali menambah keyakinannya akan prospek pisang cavendish ke depan. “Pasaran pisang cavendish di Bali, NTB dan NTT sangat tinggi yang selama ini dimainkan oleh pengusaha luar. Itu yang ingin kita rebut,” ucapnya.

Setelah pisang cavendish sukses, ia berencana mengembangkan buah unggulan lain seperti nanas, jambu dan jeruk kristal. Buah-buah  kualitas ekspor itu telah dicoba dipasarkan pada Festival Agribisnis 2019 dan terbukti sangat laku.

Suryawan mengatakan, Bali sebagai kampung turis mesti menyiapkan buah yang berkualitas paling bagus untuk menunjang sektor pariwisata, apalagi Gubernur telah memberlakukan peraturan tentang pemanfaatan buah lokal. “Petani kita jauh lebih ulet ketimbang petani di daerah lain. Tinggal faktor edukasi mulai pemilihan bibit hingga pascapanenen saja,” kata Suryawan. *pur

BAGIKAN