Musim Tanam Padi, Stok Pupuk Bersubsidi ”Mengkhawatirkan”

PUPUK  memiliki  peranan  yang  penting  dan  strategis  dalam  peningkatan  produksi dan  produktivitas  pertanian.

37

Alami kemundurun akibat kemarau panjang, musim tanam padi di Bali diprediksi akan berlangsung pada November dan Desember 2019 mendatang. Kini terkait itu, sejumlah kebutuhan menghadapi musim tanam salah satunya pupuk bersubsidi sudah dipersiapkan setelah sebelumnya diusulkan ke pusat untuk dilakukan penambahan (realokasi). Sayangnya, hasilnya di luar dugaan. Mengapa?

PUPUK  memiliki  peranan  yang  penting  dan  strategis  dalam  peningkatan  produksi dan  produktivitas  pertanian.  Sebab itu,  pemerintah  mendorong penggunaan  pupuk yang  efisien  melalui  berbagai  kebijakan  meliputi  sistem  penyediaan,  distribusi,  harga  jual dan  aspek  teknis  lainnya.  Selain  aspek kualitas,  penyediaan  pupuk  yang  tepat  dalam jumlah,  jenis,  dan  waktu  pemberian,  serta  cara  pemberian  sangat  diperlukan  untuk menjamin  peningkatan produksi  dan  produktivitas  pertanian.

Produksi  dan  penyediaanpupuk  yang  tepat  hanya  bisa  dilakukan  jika  didasarkan  pada  informasi  kebutuhan  pupukyang  tepat  pula.  Oleh  karena  itu diperlukan  suatu  hasil  proyeksi  mengenai  kebutuhan pupuk pada  masa  yang  akan  datang  untuk  menjamin  pencapaian  swasembada.

Bercermin dari itu pula Kepala Seksi Pupuk, Pestisida dan Alat Mesin Pertanian Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Bali, Made Ariawan mengungkapkan, menjaga kontinyuitas produk pertanian, pihaknya sudah mengajukan untuk mendapatkan kuota tambahan pupuk bersubsidi kepemerintah pusat (Kementerian Pertanian) melalui realokasi. Penambahan tersebut dimaksudkan untuk menjamin tersedianya pupuk bersubsidi untuk memenuhi kebutuhan musim tanam di Bali yang akan terjadi mulai November mendatang.

“Penambahan ini dilakukan karena kuota atau jatah yang dialokasikan pada awal tahun, saat ini jumlahnya sudah menipis. Di sisi lain, musim tanam padi pada akhir tahun ini merupakan musim tanam terbesar di Bali seiring dengan terjadinya musim hujan, sehingga kebutuhan pupuk saat itu dipastikan akan lebih banyak dari bulan sebelumnya,” tuturnya.

Jelas Ariawan, mengantisipasi menipisnya stok pupuk bersubsidi ini, pihaknya sudah mengajukan penambahan alokasi pupuk. Sayangnya, hasil dari jumlah penambahan pupuk bersubsidi yang disetujui oleh pemerintah pusat tidak menggembirakan, dan itu berpeluang akan mengkondisikan stok pupuk bersubsidi di Bali pada musim tanam nanti sedikit mengkhawatirkan.

Itu tercermin dari penambahan pupuk bersubsidi untuk jenis urea yang diajukan mencapai 6.000 ton sesuai dengan prediksi kebutuhan pupuk pada musim tanam November-Desember mendatang, diakuinya dari jumlah pengajuan disetujui hanya 1.149 ton. Paparnya, hal sama juga terjadi pada jenis pupuk subsidi lain seperti NPK hanya disetujui penambahan mencapai 3 ton, pupuk bersubsidi jenis ZA disetujui ditambah 1 ton, dan pupuk organik 2 ton. Ironisnya lagi, untuk pupuk SP 36 yang sebelumnya diajukan untuk mendapat alokasi penambahan mencapai 50 ton, hasilnya justru dikurangi hingga 37 ton dari kuota pada awal tahun.

Bercermin dari realokasi tersebut,  tahun ini secara keseluruhan untuk kuota pupuk urea bersubsidi untuk Bali yang di awal tahun dijatah mencapai 30.276 ton, maka saat ini naik menjadi 31.425 ton. Sambungnya, pupuk bersubsidi SP 36 yang pada awal tahun dialokasikan mencapai 1.197 ton, saat ini berkurang menjadi 1.160 ton, untuk pupuk ZA yang awal tahun dialokasikan mencapai 3.239 ton, saat ini bertambah menjadi 3.240 ton, untuk pupuk NPK dari alokasi 19.337 pada awal tahun menjadi 19.340 ton saat ini, sedangkan pupuk organik yang dialokasikan 5.298 ton di awal tahun, menjadi 5.300 ton saat ini.

Lanjutnya, saat SK diterima terkait penambahan alokasi pupuk pada Rabu (16/10), pihaknya kembali berkoordinasi ke pusat untuk diberikan penambahan lagi. Katanya, oleh pihak pusat pengajuan kembali untuk pupuk bersubdisi oleh Provinsi Bali ini masih akan dipertimbangkan lagi. Selain itu, pihak pusat juga menginformasikan bahwa secara nasional untuk penambahan alokasi pupuk bersubsidi memang dibatasi saat ini.

Harapannya, mudahan-mudahan dari usulan kembali penambahan dari SK realokasi  tersebut, pusat bisa segera merealisasikan secepatnya. Sebab, stok sejumlah pupuk bersubsidi di Bali sudah sangat menipis dan berpotensi terjadi kekurangan, terutama untuk jenis NPK. Sebab estimasinya, dari kuota yang ada dari pupuk subsidi jenis NPK akan habis pada Oktober 2019 ini, sedangkan untuk pupuk urea bersubsidi dari penambahan alokasi yang ada kemungkinan hanya akan mencukupi kebutuhan tanam padi hingga November 2019.

“Bercermin dari itu ketersediaan pupuk bersubsidi pada musim tanam padi jelang akhir tahun nanti agak riskan,” tandasnya. *man

BAGIKAN