Literasi Keuangan Perusahaan Asuransi masih Rendah 

Kegiatan literasi keuangan perusahaan asuransi ke masyarakat tergolong masih sangat rendah.

30
EDUKASI - Ketua Umum DAI, Ketua IKNB OJK, Ketua Panitia Hari Asuransi saat penyampaian program edukasi dan literasi yang diselenggarakan Dewan Asuransi Indonesia (DAI) bekerja sama dengan seuruh anggota asosiasi asuransi.

Mangupura (bisnisbali.com) –Kegiatan literasi keuangan perusahaan asuransi ke masyarakat tergolong masih sangat rendah. Perusahaan-perusahaan asuransi diminta untuk lebih gencar melakukan edukasi literasi keuangan guna lebih mudah mewujudkan program untuk menggaet sejuta polis dari masyarakat.

Kepala Eksekutif Pengawas IKNB OJK, Riswinandi di sela-sela peringatan Hari Asuransi 2019, Kamis (17/10) mengatakan, saat ini sudah tumbuh banyak asosiasi yang mengayomi perusahaan asuransi. Dewan Asuransi Indonesia (DAI) dituntut bekerja sama dengan seluruh anggota asosiasi asuransi yang beranggotakan asosiasi asuransi umum (AAUI), asuransi jiwa (AAJI), asuransi jaminan sosial (AAJSl), asuransi syariah (AASI), pialang asuransi dan reasuransi (APPARINDO) serta penilai kerugian asuransi (APKAi).

Riswinandi meminta keberadaan asosiasi perusahaan asuransi diharapkan memberikan manfaat untuk mengajak seluruh anggota guna memudahkan penetrasi keuangan kepada masyarakat. Hal ini melalui kegiatan edukasi dan literasi keuangan akan membantu peningkatan penetrasi perusahaan asuransi.

Ketua Umum DAI, Dadang Sukresna mengatakan perayaan Hari Asuransi 2019 memiliki tema  “Mari Berasuransi,  Sejuta Polis untuk Negeri”.  Peringatan Hari Asuransi diharapkan fokus untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya berasuransi untuk perlindungan sebanyak mungkin masyarakat.

Peringatan Hari Asuransi setiap 18 Oktober. Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum bagi industri untuk lebih gencar melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat Indonesia.

“Kami ingin kembali menjabarkan tujuan bersama untuk meningkatkan pemahaman asuransi, khususnya dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan dalam mendorong ketersedian akses dan Iayanan keuangan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia,” katanya.

Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penetrasi asuransi di Indonesia masih tergolong rendah, baru 3,01 persen. Padahal, asuransi seharusnya menjadi andalan sebagai pelindung dari berbagai risiko di masa depan yang dapat mengancam perencanaan keuangan.

Tingkat pendidikan, kesadaran dan pendapatan masyarakat masih menjadi beberapa penyebab utama rendahnya minat masyarakat dalam berasuransi. Selain itu, kondisi wilayah Indonesia yang merupakan negara kepulauan, turut memengaruhi percepatan penetrasi asuransi kepada masyarakat dan merupakan tantangan tersendiri bagi industri asuransi, agar kegiatan penetrasi tidak hanya berfokus di kota-kota besar.

Dadang Sukresna menambahkan, DAI melakukan berbagai kegiatan yang berfokus pada edukasi dan sosialisasi manfaat berasuransi kepada seluruh lapisan masyarakat, baik untuk kalangan internal maupun eksternal industri perasuransian, termasuk pada kegiatan Hari Asuransi ini.

Ketua Panitia Hari Asuransi 2019, Fachri Adnan mengatakan, insan asuransi melihat masih banyak celah yang dapat dilakukan, guna mencapai tujuan peningkatan masyarakat untuk sadar berasuransi. Era teknologi digital dan perubahan lintas generasi dari baby boomers menjadi generasi milenial, merupakan opportunity luar biasa bagi industri asuransi untuk dapat meraih pasar yang Iebih besar. *kup

BAGIKAN