Manfaatkan Media Sosial, Industri Jamu Rumahan Miliki Pasar Potensial

Keberadaan layanan internet saat ini membuka pasar bagi produk industri kecil menengah (IKM), tidak terkeculi industri rumahan.

32

Denpasar (bisnisbali.com) –Keberadaan layanan internet saat ini membuka pasar bagi produk industri kecil menengah (IKM), tidak terkeculi industri rumahan. Salah satunya jamu tradisional yang memanfaatkan layanan dalam jaringan (daring), memiliki pasar potensial dalam pengembangannya.

Seperti Jamu Bu Desak yang dijual melalui media sosial, sejak 2016 lalu tetap eksis hingga saat ini. Owner Jamu Bu Desak, Desak Putu Ayu Suartini saat ditemui beberapa waktu lalu mengatakan, dalam penjualannya yang memanfaatkan media sosial, ia mempekerjakan tenaga kerja sebagai admin. Hal ini dilakukan agar promosi produk bisa terfokus, dan dirinya bisa fokus di produksi.

Melalui media sosial ini, jamu tradisional yang diproduksinya kian dikenal. Tidak hanya melayani masyarakat umum, jamu buatannya juga telah menyasar beberapa sektor pariwisata khususnya hotel dan vila yang dimanfaatkan sebagai welcome drink.

Aktivitas jual beli dilakukan di dunia maya, yang proses pengantaran juga terkadang memanfaatkan ojek online. Ia mengakui, dalam sehari jamu buatannya bisa terjual hingga 200 botol untuk ukuran kecil sekali minum ditambah beberapa jamu dengan kemasan lebih besar juga selalu ada permintaan setiap harinya.

Awal mula pengembangan usaha jamu tradisional milikinya, dimulai dari kegemarannya minum jamu dan sering membuat jamu untuk keluarga. Setelah pindah ke Bali, pada tahun 2016 lalu, dirinya melihat berbagai potensi bahan baku jamu yang melimpah. “Terutama daun bluntas yang dibuang begitu saja oleh petani sekitar,” ungkapnya.

Dari situ dia mulai memiliki ide untuk memproduksi jamu rumahan lebih serius dan dikembangkan menjadi sebuah usaha. Tanggapan dari kerabat dekat dan tetangganya pun cukup positif terhadap jamu yang dibuatnya, sehingga mulailah untuk mengembangkan.

Awal mula memang cukup terkendala, dikarenakan produksi jamu dengan jumlah banyak dengan yang biasa dilakukannya berbeda. Ia harus melakukan berbagai percobaan dan terus mempelajari takakaran yang pas. Dari sana kemudian dia terus mempromosikan, hingga saat ini Jamu Bu Desak masih tetap bisa eksis.

Terkait kemasan, Desak Suartini mengatakan, memiliki beberapa pilihan. Mulai dari kemasan 330 mililiter dengan kemasan botol plastik, hingga 1.000 mililiter dengan kemasan botol kaca. Sementara untuk pilihan rasa, Desak Suartini mengatakan, rasa jamu yang diproduksi memiliki berbagai varian, di antaranya kunyit, kunyit asam, kunyit asam sirih bluntas, beras kencur, rapet wangi (temu kunci, buah pinang, sirih) bir pletok (jahe, rempah-rempah dan kayu secang). *wid

BAGIKAN