Karangasem perlu membuat taman kelapa atau pun taman mini kelapa. Selain merupakan tanaman pangan dan holtikultura, batang, daun, buah, sampai sabut kelapa bisa dimanfaatkan. Bali selalu kekurangan janur, pucuk kelapa yang sangat banyak diperlukan sebagai prasarana pembuatan banten keperluan upacara masyarakat Bali. Sejauh mana proses mewujudkan taman kelapa di Karangasem?


KEPALA Dinas Pertanian Karangasem, Ir. I Wayan Supandi, ditemui Rabu (16/10) kemarin di Karangasem mengatakan, ide dan rencana mewujudkan taman kelapa atau taman mini kelapa itu datang dari pihaknya di Pemkab Karangasem. Ide itu, setelah banyaknya masukan dari masyarakat, tokoh masyarakat dan melihat potensi wilayah Karangasem, serta potensi pengembangan kelapa untuk kesejahteraan masyarakat dan petani.

Ide dan wacana itu gayung bersambut, sampai kemudian festival kelapa internasional digelar di Karangasem. Saat itu juga disinkronkan dengan festival pertanian tahunan di Karangasem yang disebut festival subak. September lalu, festival subak pun mengangkat tema soal kelapa. Saat pembukaan festival kelapa internasional yang dihadiri bupati dari kabupaten anggota Konferensi Kelapa (Kopek)  Indonesia dan anggota Kopek Internasional, serta hadir Menteri Perindag Tanzania, sudah dideklarasikan atau dicanangkan taman mini kelapa di Taman Ujung, Karangasem. Di lahan berteras Taman Soekasada Oejoeng  (TSO) di sebelah barat agak ke selatan di bawah Balai Kapal, ditanam  puluhan bibit kelapa dari berbagai jenis. Yang menanam pun kalangan bupati, perwakilan bupati dan Menperindag  Tanzania, serta pejabat Kopek lainnya.  Tujuannya, tanaman bibit kelapa itu menjadi kenangan atau monumen hidup. Nantinya, diharapkan pimpinan perwakilan daerah yang menanam bibit kelapa itu, beberapa tahun lagi teringat dan datang lagi ke Karangasem, khususnya ke TSO  guna melihat perkembangan bibit kelapa yang pernah ditanamnya.

Saat ini, terkait proses mewujudkan taman kelapa itu, pihaknya masih menunggu arahan Bupati Karangasem. Bupati sudah meminta stafnya untuk membuat animasi mengenai desain  taman kelapa itu. Sementara, pihaknya masih menginventarisasi dan melakukan kajian, di mana lahan yang cukup bisa dijadikan taman kelapa. Tentunya, kajiannya dari berbagai aspek, seperti ketersediaan lahan yang cukup luas, adanya dukungan masyarakat setempat serta dari segi kecocokan pembudidayaan kelapa di lahan itu.

Menurut Supandi didampingi stafnya Kabid Tanaman Perkebunan, Komang Cenik, S.P.,  lahan yang dikaji, ada di Yeh Malet, Kecamatan Manggis, di perbukitan yang ada Pura Duwangga Desa Sidemen, Karangasem.  Komang Cenik mengatakan, di Yeh Malet, merupakan lahan Pemprov Bali. Lokasinya dekat pantai dan cocok dengan tanaman kelapa. Pantai Yeh Malet yang lokasinya strategis sebagai tempat pemberhentian, sampai kini warung es kelapa muda. Sementara di perbukitan Duwangga, berada di ketinggian, masih dikaji apakah cocok ditanami kelapa. Selain itu, jalan ke lokasi itu terjal. ‘’Kami masih mencari informasi apakah ada lahan cukup luas milik Pemprov Bali di Karangasem yang bisa dimohonkan dijadikan taman kelapa itu.  Ada informasi di Muntig, Kecamatan Kubu ada tanah milik Pemprov Bali yang selama ini merupakan perkebunan kelapa, kami akan cari informasinya lebih detail. Pengembangan kelapa di Karangasem masih sangat terbuka dan potensial, seperti di wilayah Desa Datah. Lahannya luas, tanaman kelapa dalam milik petani sebagian besar sudah tua, sehingga kurang produktif. Tanaman kelapa itu perlu diremajakan,’’ tambah Komang Cenik.

Menurut Komang Cenik, harga buah kelapa dalam yang sudah tua atau kering, saat ini sudah menggembirakan petani, karena harganya sudah naik. Per butir harganya tembus Rp 5 ribu. Itu harga di tingkat petani di pasar bisa lebih tinggi lagi. Kelapa muda di warung-warung seperti di Padangkerta, per butir bisa Rp 8 ribu bahkan lebih. Kelapa muda nyuh gading, rata-rata per butir Rp 5 ribu dan laku. Belum lagi, janur mahal, dan banyak perajin kulit canang atau penjual canangsari menggunakan daun enau atau ambu jaka,’’ paparnya.

Wayan Supandi menambahkan, untuk mewujudkan taman  kelapa itu,  perlu kajian matang dan melibatkan sejumlah dinas/instansi terkait. Sebab, tidak hanya aspek budi daya,  juga mesti ada museumnya, tempat belajar dengan berbagai informasi seperti perpustakaan, bahkan aspek agrowisatanya sebagaimana masukan dan informasi dari seminar internasional saat festival dan konferensi internasional Kopek di TSO. ‘’Karangasem tergolong penghasil kelapa nomor dua di Bali, dan lahannya masih sangat potensial berkembang, termasuk peremajaan tenaman kelapa. Meski penghasil kelapa yang besar untuk di Bali, masih juga harus mendatangkan janur dari luar Bali. Potensi yang besar ini harus kita optimalkan untuk peningkatan kesejahteraan petani,’’ papar Supandi. *bud/editor rahadi

BAGIKAN