Kebiasaan Merawat Gigi masih Rendah

Gigi berlubang masih menjadi masalah besar di Indonesia. Terbukti, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan 88,8 persen masyarakat Indonesia memiliki masalah gigi berlubang.

14
PERIKSA GIGI - Seorang anak sedang menjalani pemeriksaan gigi di RSGM Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar.

Denpasar (bisnisbali.com) –Gigi berlubang masih menjadi masalah besar di Indonesia. Terbukti, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan 88,8 persen masyarakat Indonesia memiliki masalah gigi berlubang. Bahkan permasalahan ini juga dialami oleh 92,6 persen anak indonesia berumur 5 tahun. Hal ini tentunya sangat memprihatinkan, mengingat kondisi gigi susu sangat memengaruhi kondisi dan struktur gigi permanen di masa mendatang.

Hal tersebut dikatakan Division Head for Health & Wellbeing and Professional Institutions Unilever Indonesia Foundation, drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc pada kegiatan Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) yang berlangsung di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar, Senin (14/10).

“Melihat masih dibutuhkannya edukasi berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia untuk merawat kesehatan gigi dan mulut secara konsisten, di BKGN tahun ini juga digaungkan gerakan “Indonesia Tersenyum” untuk membebaskan senyum keluarga Indonesia dari gigi berlubang,” kata Mirah.

Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar, Dr. drg. Dewa Made Wedagama, Sp. KG, menyebutkan kebiasaan masyarakat Indonesia dalam merawat kesehatan gigi dan mulut merupakan tanggung jawab bersama yang masih perlu dibenahi.

Khusus di wilayah Bali berdasarkan Riskesdas 2018 menunjukkan baru 5,3 persen masyarakat menyikat gigi pada waktu yang tepat, yaitu dua kali, setelah sarapan dan sebelum tidur. Selain itu, ternyata permasalahan gigi dan mulut masyarakat Bali sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional, yaitu sebesar 58,4 persen.

“Hal itu salah satunya disebabkan karena sebanyak 95,7 persen masyarakat Bali tidak pernah berkunjung ke tenaga medis gigi. Untuk itu BKGN 2019 ini menjadi momen tepat bagi masyarakat untuk memulai kebiasaan baik merawat kesehatan gigi dan mulut,” ungkap Wedagama.

Sosok Pahlawan Senyum, drg. Ni Made Ardani, M.AP. yang juga sebagai tenaga medis di Puskesmas II Denpasar Barat mengatakan dirinya masih aktif mengembangkan berbagai program untuk meningkatkan status kualitas hidup masyarakat dengan rutin memantau kesehatan gigi dan mulut, mulai usia balita hingga lanjut usia. Berkat upaya ini, ia terpilih sebagai pemenang pertama Tenaga Kesehatan Teladan Provinsi Bali 2019.

“Selama dua tahun terakhir saya menjalankan program Tas Gilut (Duta Kesehatan Gigi dan Mulut) di 22 SD yang saya dampingi. Saya memilih dua siswa/siswi berprestasi kelas 3-5 SD sebagai duta penyuluhan kesehatan gigi dan mulut di masing-masing kelas dan lingkungan sekitarnya. Hingga kini program berjalan lancar dan mendapatkan respon positif dari seluruh pihak, baik itu pihak sekolah, orang tua maupun para murid, karena program ini membantu mereka semakin memahami pentingnya merawat kesehatan gigi dan mulut,” tutur Ardani.

Kegiatan BKGN 2019 diisi dengan aksi sikat gigi secara masal serta pemeriksaan gigi yang diikuti puluhan siswa SD di Kota Denpasar. *pur

BAGIKAN