Pengembangan Tanaman Bawang Merah di Denpasar Hasilkan 20 Ton per Hektar

Sudah dua tahun berjalan, Dinas Pertanian Kota Denpasar mengembangkan tanaman bawang merah

20
BAWANG - Petani di Sanur yang tengah membersihkan hasil produksi bawang merah. (wid)

Petani Rasakan lebih Untung

Denpasar (bisnisbali.com) – Sudah dua tahun berjalan, Dinas Pertanian Kota Denpasar mengembangkan tanaman bawang merah. Hasilnya pun menarik dengan capaian 20 ton per hektar. Hal ini membuat petani antusias dan merasakan menanam bawang lebih untung.

Salah seorang petani yang mengebangkan tanaman bawang merah di daerah Sanur I Made Sugiartana, saat ditemui, Senin (14/10) kemarin mengaku, sepanjang tahun ini hasil panen bawang yang didapatkannya cukup bagus. Terlebih lagi kemarau yang terjadi tahun ini cukup lama, membuat hasil panen bagus serta kualitas bawang yang dihasilkan juga unggul. “Kalau di daerah sini (Denpasar) musim kemarau justru bagus untuk menanam bawang merah. Sepanjang tahun ini kerugian yang dialami dari menanam bawang merah masih minim,” ujarnya.

Pria yang sebelumnya lebih fokus menanam buah semangka dan melon ini, mengaku menanam bawang merah lebih untung dan saat ini fokus menaman bawang merah. Selain risiko kegagalan panen rendah, harga yang didapat dari hasil panen juga sesuai. Paling anjlok Rp10.000 per kilogram dan itu dikatakannya sudah untung.

Dijelaskannya, 1 hektar lahan bisa menghasilkan 20 ton bawang merah. Jika terjual dengan harga Rp10.000 per kilogram, 20 ton bawang merah akan menghasilkan Rp200 juta setiap kali panen. Sementara itu, untuk biaya produksi, kata Sugiartana, hanya Rp15 juta per hektar lahan untuk sekali panen. “Di samping itu, jika harga anjlok atau musim hujan, kita bisa siasati dengan menggantungnya dulu dan dijual saat harga bagus,” ujarnya sembari mengatakan ketahanan bawang yang digantung hingga 6 bulan lamanya.

Demikian dari segi pemasaran, pihaknya tidak terlalu kesulitan, yang di Denpasar sendiri pasar sudah dimiliki. Selain Tiara Dewata yang menjadi penerima bawang merah produksinya, beberapa pasar tradisional yang ada di wilayah Sanur hingga supermarket lainnya juga mengambil bawang merah di tempatnya. Sehari permintaan bisa mencapai 500 kilogram, namun diakuinya hingga saat ini hanya bisa menyediakan 300 kilogram.

Disinggung soal lama waktu yang dibutuhkan dari proses tanam hingga panen Made Sugiantara mengatakan, membutuhkan waktu 60 hari. Untuk mengantisipasi adanya hujan yang bisa merusak tanaman bawang, dirinya membuat gundukan pada lahan yang digunakan. Demikian saat musim hujan, gundukan tanah yang dibuatnya lebih tinggi agar air tidak menggenang pada tanaman. Proses panen diawali dengan pencabutan, kemudiaan bawang merah dijemur hingga 3 sampai 4 hari dan setelah itu dibersihkan.

Sugiantara mengaku, awal mula dirinya menanam bawang merah dikarenakan mendapatkan binaan dari Dinas Pertanian Kota Denpasar. Setelah tanaman bawang yang dikembangkan berhasil, dia pun memutuskan untuk menanam lagi hingga saat ini.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Dinas Pertanian Kota Denpasar I Gede Ambara Putra. Diakuinya, melihat permintaan bawang merah di pasaran yang tidak pernah surut, membuat pihaknya berkeinginan untuk mengembangkan tanaman yang biasa digunakan untuk bumbu dapur ini. Untuk pembibitan awal, pihaknya mendatangkan dari Bima dikarenakan suhu di daerah tersebut hampir sama dengan daerah Denpasar. Tidak hanya di Sanur, beberapa wilayah lain di Denpasar juga dikatakannya cocok untuk tanaman bawang merah ini, yang sudah dilakukan percobaan. *adv

BAGIKAN