Aci Tabuh Rah Pengangon, Perang Tipat Bantal di Desa Adat Kapal

upacara ritual berupa banten tipat-bantal di Pura Desa-Puseh Desa Adat Kapal sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Ciwa

38

Mangupura (bisnisbali.com)- Awal dimulainya Aci Tabuh Rah Pengangon atau Siat Tipat-Bantal di Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Badung menurut cerita dan sumber sastra diperkirakan sudah dilaksanakan mulai tahun 1339 Masehi. Ini waktu pemerintahan Raja Bali Kuno terakhir Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten yg berkeraton di Bedahulu, Gianyar.
Krama Desa Adat Kapal, Dr. I Putu Anom, S.E., M.Par menceritakan sejarah waktu  krama desa adat terjadi paceklik di mana hasil pertanian padi dari para petani mengalami gagal panen berturut-turut. Mengetahui terjadinya gagal panen ini akhirnya Sang Raja penguasa jagad Bali mengutus patih andalannya Ki Kebo Iwa untuk menyelidiki keadaan yang menimpa rakyat Desa Adat Kapal.

Ki Kebo Iwa melaksanakan yoga semadi di Pura Khayangan Jagad Pura Purusada yang akhirnya mendapatkan wasiat cara mengatasi keadaan tersebut. Di mana masyarakat Desa Kapal yang waktu itu mayoritas bermata pencarian sebagai petani agar menghaturkan upacara ritual berupa banten tipat-bantal di Pura Desa-Puseh Desa Adat Kapal sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Ciwa.Tipat sebagai simbol Yoni (pradana) dan Bantal sebagai simbol Lingga (Purusa).

Setelah berlangsungnya upacara persembahan tipat-bantal tersebut dilanjutkan dengan perang (siat) tipat-bantal yang dilaksanakan masyarakat Desa Adat Kapal dengan menggunakan sarana tipat-bantal yg telah dipersembahkan. Makna filosofi dari perang/siat tipat-bantal tersebut sebagai bentuk simbolisasi pertemuan antara pradana-purusa agar bisa menghasilkan kesuburan yg mana filsafat/tatwa tersebut sesuai dengan pertemuan Lingga-Yoni akan menemuai kesuburan sesuai ajaran agama Hindu.

Setelah dilaksanakan siat tipat-bantal tersebut, terjadilah kesuburan di mana pertanian petani sawah tumbuh subur sehingga tidak lagi terjadi paceklik, kehidupan masyarakat  makin makmur dan sejahtera. Selanjutnya  tiap tahun sekitar  Oktober dengan memilih hari baik setelah panen padi untuk melaksanakan ritual tabuh rah pengangon dalam bentuk siat tipat-bantal.

Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Wilayah Bali ini melihat beberapa  tahun belakangan acara ritual tersebut dilaksanakan pada rahina Purnama Kapat. Aci tabuh rah pengangon dilaksanakan tulus ikhlas masyarakat Desa Adat Kapal yang juga bisa ditonton masyarakat umum termasuk wisatawan karena acara tersebut dilaksanakan di Madya Mandala Pura Desa-Puseh dilanjutkan dengan di jaba pura di Jalan Raya Kapal.

Dalam konteks kekinian ritual Aci Tabuh Rah Pengangon (siat tipat-bantal) tersebut agar masyarakat wajib menjaga keberlangsungan irigasi pengairan terawat baik, tidak mengotori atau membuang sampah di sungai baik aliran irigasi primer, sekunder maupun tersier yang langsung mengairi persawahan sehingga pertanian  makin subur.

Yang mendapat perhatian sekarang adalah agar masyarakat mampu mencegah alih fungsi lahan sawah. Kalau ke depan alih fungsi lahan sawah menjadi perumahan atau bangunan fisik lain menjadi semakin masif terjadi  tentu lahan sawah akan terus berkurang tentu produksi pertanian  makin merosot atau ketersediaan pangan beras  makin berkurang.

Yang mana tatwa/filosofi kesuburan pertanian tentu akan tidak sesuai dengan realita yang terjadi. Demikian pula ruang terbuka hijau yg bermaafaat untuk kesehatan juga semakin berkurang. Dalam konteks tatwa/filsafat aci tabuh rah pengangon/siat tipat-bantal sebagai relegi budaya pertanian juga terkandung nilai-nilai Sad Kertih sesuai program pemerintah Bali “Nangun Sat Kertih Loka Bali”. *kup

BAGIKAN