Jejaring Pemerhati Lingkungan (Jepri Link) Tekankan Pada Pengolahan Sampah

Sampah memang sudah menjadi hal yang tidak asing lagi bagi masyarakat.

84

Singaraja (bisnisbali.com) – Sampah memang sudah menjadi hal yang tidak asing lagi bagi masyarakat. Persoalan sampah yang terus meningkat bukan tidak mungkin nantinya akan berdampak pada kondisi lingkungan yang menjadi tidak kondusif lagi, serta pencemaran dan limbah yang dapat mengganggu kenyamanan masyarakat.

Oleh karena itu, berbagai upaya ataupun gerakan cinta lingkungan hingga program pengolahan sampah menjadi barang bernilai guna pun terus digaungkan. Tidak hanya dari Pemerintah Daerah juga dari berbagai lapisan masyarakat yang tergabung dalam komunitas atau organisasi peduli lingkungan turut menjadi pelopor dalam pengurangan timbunan sampah.

Seperti Jejaring Pemerhati Lingkungan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Jepri Link yang digagas oleh I Gede Suyasa dari Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula ini salah satunya. Satu hal yang mendasari menelurkan program berbasis cinta lingkungan ini tidak lain untuk menjawab persolan timbunan sampah yang tidak pernah ada akhirnya.

Menurutnya, sampah atau limbah tidak serta merta bisa dibuang begitu saja. Masih ada banyak upaya yang dilakukan untuk meminimalisir timbunan sampah dan limbah salah satunya dengan mengolahnya. Selama ini ia menilai, pengolahan sampah masih sangat minim, mindset masyarakat tentang sampah selama ini cenderung memindahkan dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Hal itulah yang ingin ia tekankan dalam Jepri Link ini khususnya di Desa Tejakula.

Suyasa, berharap melalui Jepri Link ini masyarakat mampu memilah jenis sampah untuk bisa diolah kembali sesuai dengan jenisnya seperti sampah padat, sampah kering dan sampah basah. Jenis sampah – sampah ini akan mampu menghasilkan sesuatu atau produk yang berbeda – beda lengkap dengan manfaatnya.

Pihaknya mencontohkan untuk sampah organik  misalnya sampah basah diolah dengan alat sederhana yang dinamakan komposter. Sementara sampah basah dapat dipermentasikan menggunakan bioaktivator EM4, dimana cairan tersebut nantinya dapat digunakan sebagai pupuk organik. Sementara untuk sampah padat atau kering akan dimasukkan ke dalam tong komposter kemudian diberikan bioaktivator EM4. Setelah beberapa hari sampah kering ini bisa dijadikan pupuk dan media tanaman.

Untuk sampah padat seperti limbah koran dan plastik, pihaknya mengajak masyarakat untuk kreatif dengan memberikan pembinaan membuat barang-barang kerajinan bernilai ekonomi tinggi seperti bokor dari koran bekas dan masih banyak kerajinan lainnya. “Terlebih lagi sudah ada Bank Sampah, jadi saya rasa khusus untuk penanganan sampah plastik ini lambat laun bisa diatasi,”jelasnya.

Selain penekanan pada pengolahan sampah, pihaknya juga telah membentuk penanganan sampah berbasis kawasan dengan mengolah sampah-sampah dari upacara agama menjadi pupuk organik. Misalnya ada sejumlah masyarakat yang memiliki timbunan sampah dari hasil upacara agama, pihaknya akan memgasilitasi mesin pencacah dan motor pengangkut sampah. Setelah sampah tersebut diharapkan diolah masyarakat, dan hasil dari pengolahan sampah dengan mesin tersebut menjadi pupuk bisa dibagikan kepada warga yang membutuhkan pupuk organik.

Pihaknya berharap, kesadaran masyarakat dalam hal lingkungan tidak sebatas membuang sampah pada tempatnya. Melainkan bagaimana untuk menjadikan sampah menjadi sesuatu yang lebih berdaya guna tidak hanya untuk diri sendiri juga masyarakat luas. Sejauh ini dari sejak berdiringa Jepri Link tahun 2017 lalu, baru ada sekitar 756 KK Keuarga yang ada di Desa Tejakula Kecamatan Tejakula yang mampu menerapkan Jepri Link ini.

Kedepan pihaknya menargetkan agar, kesadaran masyarakat di Desa Tejakula dengan jumlah KK sebanyak 3.500 ini semakin meningkat, sehingga nantinya mampu menjadi contoh bagi Desa – Desa lainnya di Bali Utara. *ira

BAGIKAN