BBPOM Bali Dorong Percepatan Pengembangan Kosmetik Tematik

Dalam negeri saja merupakan potensi pasar  yang luar biasa, jangan sampai potensi ini malah dikuasai asing. Tetapi kita berharap UMKM kita bisa bersaing di pasar dunia

24
Dra. Mayagustina Andarini, Apt, M.Sc Deputi bidang pengawasan obat tradisional, suplemen kesehatan dan kosmetik, BBPOM Pusat

Mangupura (bisnisbali.com) – Bali termasuk provinsi yang pertumbuhan kosmetik tematiknya paling cepat, namun masih banyak kendala yang dihadapi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang bergerak di bidang kosmetik. Jika UMKM ini bisa menguasai pasar dalam negeri saja, sudah sangat luar biasa karena Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia.

“Dalam negeri saja merupakan potensi pasar  yang luar biasa, jangan sampai potensi ini malah dikuasai asing. Tetapi kita berharap UMKM kita bisa bersaing di pasar dunia. Untuk itu kosmetik tematik ini yang harus digarap, karena untuk kosmetik premium kita pasti kalah bersaing dengan negara lain yang sudah memiliki brand – brand terkenal,” terang Dra. Mayagustina Andarini, Apt, M.Sc., Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, BBPOM Pusat, Rabu (9/10) kemarin di Kuta, Badung.

Dikatakan, kosmetik di Indonesia sebagian besar diproduksi oleh industri mikro kecil dan belum dapat berkembang secara optimal seperti di negara lain. Dari 639 industri kosmetik nasional, 90% IKM, 20% pangsa pasar industri UMKM. Berbagai permasalahan yang mereka hadapi seperti perizinan, permodalan, bahan baku, produksi, inovasi, pemasaran, SDM termasuk manajerial. “Kami berupaya mendorong UMKM ini untuk lebih cepat tumbuh karena kami melihat potensi besar yang bisa digarap. Selama ini banyak kosmetik ilegal yang diselundupkan ke Indonesia. Temuan terakhir dari Rp164 miliar barang ilegal, Rp 128 miliar itu kosmetik,” ungkapnya.

Maya mengatakan, ingin mengangkat potensi kosmetik Indonesia untuk bisa mendunia. “Bali ini sudah punya branding, tinggal kita masukkan substansi-substansi apa yang bisa kita pasarkan ke global. Makanya kita harapkan dukungan dari semua kementerian dan juga pemerintah daerah. Kami akan dukung dari segi perizinan, nomor izin edar dan standarnya akan kita tingkatkan,” tuturnya.

Kalau Bali memiliki kosmetik tematik akan lebih mudah diangkat dan dipasarkan dan go global. “Ini juga untuk mengurangi jumlah kosmetik ilegal yang beredar di pasaran. Harus ditumbuhkan rasa cinta masyarakat terhadap produk lokal, karena banyak temuan produk impor ilegal itu menggunakan bahan obat berbahaya,” tukasnya.

Terkait persoalan yang dihadapi UMKM kesulitan dalam uji laboratorium yang harus dilakukan di luar Bali dengan biaya mencapai Rp 7 juta lebih, dikatakan akan dicarikan solusi dengan bekerja sama dengan Universitas Udayana. Selain itu pihaknya juga meminta pada Kementerian Perindustrian untuk membuat sebuah lab di sentra-sentra industri yang bisa digunakan UMKM dengan biaya yang lebih murah.

Sementara Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Putu Astawa mengatakan, poduk spa di Bali terbaik  dan terbanyak di dunia. “Sekarang bagaimana ada organisasi untuk bagaimana cara berproduksi yang baik. Kemudian di hilir ada mengorganisasikan bagaimana cara marketingnya,” tandasnya.

Ditambah untuk potensi bahan baku untuk kosmetik tematik di Bali sangat berlimpah.  “Cuma kita tidak tahu untuk mengolah bahan baku itu menjadi barang-barang yang memiliki nilai ekonomis. Dalam FGD saya harap bisa membuka wawasan kita, untuk mengetahui bahwa ini memiliki potensi,” kata Astawa pungkasnya. *pur

BAGIKAN