Denpasar (bisnisbali.com) – Produk spa dari Bali cukup dikenal di mancanegara. Banyak pelaku UMKM yang bergerak di bidang spa dan kosmetik, namun Kepala BBPOM Denpasar,  I Gusti Ayu Adhi Aryapatni mengatakan, hanya sedikit yang mengurus izin ke BBPOM.

“Di Bali sebenarnya banyak pelaku usaha kosmetik mulai dari berbentuk cream lotion, lulur hingga sabun. Sayangnya, dari sekian banyak produsen kosmetik, hanya sedikit yang mengurus izin ke BBPOM. Pengurusan izin untuk kosmetik jauh lebih mudah prosedurnya dibandingkan produk makanan ataupun obat-obatan,” tutur Aryapatni.

Prosedurnya lebih mudah. Karena untuk kosmetik tidak melalui uji premarket. Jadi tanggung jawab isi produk itu sepenuhnya dari produsen.

Saat ini baru sekitar 30 produsen kosmetik lokal yang mendaftar ke BBPOM Denpasar. Dari 30 tersebut, baru tiga yang mendapatkan kode notifikasi. Untuk diketahui, kode notifikasi kosmetik adalah BPOM NA, BPOM NB, BPOM NC, BPOM ND dan BPOM NE. Kode ini sesuai dengan negara produk kosmetik tersebut dibuat. Jika sudah mendapatkan kode notifikasi ini, produk kosmetik tidak hanya diizinkan beredar di dalam negeri tetapi juga hingga ke luar negeri.

Meski diberi kemudahan, produsen kosmetik lokal masih belum siap, terutama yang skala kecil (UMKM). Jumlah UMKM yang bergerak di bidang kosmetik ini cukup banyak. Hal ini dikhawatirkan akan membuat produk kosmetik lokal kalah saing dengan produk kosmetik dari luar negeri, padahal dari segi kualitas belum tentu kalah saing. Produk spa Bali sebagian besar aman karena menggunakan herbal.

Kendala dalam mengurus izin edar di BBPOM, terungkap salah satunya karena harus memiliki rumah produksi. ”Menyiapkan rumah produksi itu bukan berarti harus membuat bangunan baru. Yang penting ruangan produksi dan kemasan harus dipisah dan sesuai standar. Jika ingin kejelasan, konsultasi dengan kami agar proses mengurus izinnya lancar,” papar Aryapatni.

Jadi sayang bila UMKM tidak mengantongi izin edar, padahal kualitas kosmetik lokal Bali  banyak yang bagus utamanya produk spa. “Sayang kan, berkualitas bagus tetapi karena belum memiliki kode notifikasi, produk ini akhirnya hanya dipakai untuk usaha sendiri misalnya bagi yang membuka salon atau tukang pijat, padahal punya potensi masuk ke hotel ataupun diekspor,” tukasnya.

Dengan keberpihakan Gubernur Bali pada produk lokal, ia berharap produk kosmetik juga mendapat perhatian. “Saya harap ke depan, selain produk pertanian, produk kosmetik lokal Bali khususnya untuk spa juga difasilitasi agar diterima di hotel-hotel,” pungkas Aryapatni. *pur

BAGIKAN