Pariwisata Bali Diharapkan Giat Promosi

Ketua Indonesian Hotel General Manager Association Bali Chapter, Nyoman Astama, Rabu (2/10) menilai, pemerintah mesti tetap memprogramkan promosi pariwisata ke luar negeri.

48
MENURUN - Wisatawan mancanegara  yang berkunjung ke Bali 2019. Menyikapi menurunnya kunjungan, pemerintah diharapkan memprogramkan promosi pariwisata ke luar negeri.

Mangupura (bisnisbali.com)- Pemerintah bersama stakeholder pariwisata mesti mengambil langkah strategis di tengah anjloknya tingkat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali.

Ketua Indonesian Hotel General Manager Association Bali Chapter, Nyoman Astama, Rabu (2/10) menilai, pemerintah mesti tetap memprogramkan promosi pariwisata ke luar negeri.
Program promosi pariwisata ini harus terus dilakukan. “Bahkan program promosi mesti ditingkatkan,” ujarnya. Ia melihat keterbatasan dana promosi yang mengalami pemangkasan akibat target pemasukan dari pendapatan asli daerah yang tidak tercapai mesti disikapi bijaksana. Hanya saja, pemerintah dan pihak berkepentingan (stakeholder) pariwisata mesti bisa mencari terobosan-terobosan agar promosi potensi pariwisata Bali dan Indonesia tetap bisa dilakukan.

Astama menjelaskan ini sangat penting mengingat promosi sebagai bagian dari pemasaran  tactical marketing (taktis) untuk suatu produk dan jasa pariwisata. Promosi ini merupakan kegiatan yang terus-menerus dan konsisten harus dilakukan.
Pada saat bersamaan kegiatan promosi ini akan mengangkat image marketing Bali. Ini secara tidak langsung bisa mengangkat citra destinasi Bali kepada calon wisatawan.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang langsung ke Bali pada semester I-2019 hanya sebanyak 2,84 juta orang.

Jumlah tersebut turun 1,29 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (semester I-2018). Sementara pertumbuhan jumlah wisman ke Bali di tahun 2018 mencapai 6,54 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY). Tahun 2017 mencapai 15,62 persen YoY. Ada pun rata-rata pertumbuhan jumlah wisman ke Bali sepanjang 2015-2018 sebesar 12,89 persen YoY.

Sepanjang semester I-2019, rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada di level Rp 14.188/US$, yang mana melemah 2,4 persen YoY. Dengan adanya pelemahan kurs, seharusnya Wisatawan lebih tertarik untuk berlibur ke Indonesia karena harga-harga yang menjadi relatif murah. Pada kenyataannya, masih tetap ada penurunan jumlah wisman yang datang langsung ke Bali.

Sejatinya ini merupakan masalah yang tidak bisa dianggap sepele oleh pemerintah. Pasalnya, hingga saat ini Bali memegang peranan penting bagi industri pariwisata nasional, khususnya yang berorientasi pada wisman.
BPS mencatat pada tahun 2018, ada 6,07 juta orang wisman yang berkunjung ke Bali. Sementara total wisman yang datang ke Indonesia pada tahun yang sama hanya sebesar 15,81 juta orang.

Itu artinya hampir 40 persen dari total wisman yang melakukan perjalanan ke Indonesia menjadikan Bali sebagai destinasi utama. Kala pariwisata di Bali mengalami kontraksi, maka sudah pasti akan berdampak signifikan terhadap industri pariwisata Nasional secara keseluruhan.

Alhasil, pada semester I-2019 jumlah Wisman yang datang ke Indonesia hanya sebanyak 7,82 juta orang atau tumbuh 4,01 persen. Ini memang masih tumbuh, namun angka pertumbuhannya jauh melambat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Nyoman Astama menambahkan setidaknya sejak tahun 2015, angka pertumbuhan Jumlah wisman paling pesat terjadi pada tahun 2017, yaitu sebesar 16,77 persen YoY. Sementara rata-rata pertumbuhan jumlah Wisman sepanjang 2015-2018 mencapai 13,66 persen. *kup

BAGIKAN