Koperasi Bersaing Ketat dengan Toko Berjejaring

Lima puluh persen dari 4.986 total koperasi di Bali adalah jenis konsumen yang mengelola unit toko.

21

Denpasar (bisnisbali.com) –Lima puluh persen dari 4.986 total koperasi di Bali adalah jenis konsumen yang mengelola unit toko. Persaingan ketat koperasi dengan toko berjejaring, menuntut koperasi unit toko untuk mengubah wajah dimulai dari pembenahan tampilan toko.

“Orang akan tertarik berbelanja  bila penampilan toko  menarik dan bersih. Penataan barang juga rapi dan mudah dicari. Makanya koperasi perlu meniru tampilan dari toko berjejaring, sehingga mampu bersaing,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, I Gede Indra Dewa Putra, S.E., M.M., Rabu (2/10) di Kantor Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, Renon Denpasar.

Melihat masih banyak toserba milik koperasi yang dari segi tampilan masih sederhana dan seperti warung biasa, sehingga belum menarik bagi orang untuk berbelanja.

Gede Indra menyarankan koperasi yang mengelola pertokoan segera berbenah. “Toko harus dibuat lebih modern dan nyaman bagi anggota dan juga masyarakat yang ingin berbelanja. Ada fasilitas toilet yang bersih dan WiFi yang sudah menjadi kebutuhan pokok di era digital ini, khususnya bagi generasi milenial,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan, pengurus koperasi yang mengelola unit toko harus belajar lebih banyak dan meniru toko berjejaring meskipun mereka adalah kompetitor. “Kalau toko berjejaring itu pelayanannya ramah, tata letak barang bagus, lampunya terang, bersih dan ada WiFi sehingga cocok untuk tempat nongkrong. Masalahnya koperasi belum mengikuti itu, padahal konsumen menginginkan pelayanan yang ramah, cepat harga yang pasti dan suasana nyaman,” katanya.

Ia mengakui, sejumlah koperasi sudah cukup bagus seperti koperasi Srinadi dan Kamaduk. “Kalau yang sudah bagus, tinggal ditingkatkan lagi pelayanannya. Tapi bagi yang belum, harus menyesuaikan diri dengan selera pasar,” katanya.

Untuk bisa bersaing dari segi harga, koperasi tersebut harus bergabung atau bekerja sama dengan koperasi sekunder. Contohnya kalau berbelanja di Puskud, di sana ada harga grosir, harga tentu lebih murah. “Jadi para pengurus koperasi harus jeli melihat, produk-produk itu distributor utamanya di mana di Bali, di sana cari barang. Jangan membeli di pihak ketiga, sehingga harga jual di koperasi bisa lebih ditekan dan bisa lebih bersaing,” katanya.

Ia mengatakan, koperasi jenis ini dari volume usaha masih sangat kecil karena rata-rata mengambil barang dari pihak ketiga bukan dari distributor utama. “Koperasi juga harus jeli melihat, produk apa yang paling banyak dicari konsumen. Produk itu yang harus lebih banyak disediakan dan ditata dengan menarik, yang tidak diminati ya jangan dijual,” katanya.

Kiat lain yang bisa dilakukan adalah memberikan diskon pada periode tertentu, atau memberikan bonus sehingga menjadi lebih menarik. “Tapi yang paling penting adalah suasana belanja, karena harga menurut saya itu yang kedua. Apalagi keuntungan koperasi akan dikembalikan kepada anggota melalui SHU,” katanya.

Dari segi karyawan koperasi juga harus menarik, melayani dengan ramah. Kalau toko belum ada AC, segera adakan AC. Banyak potensi yang bisa digarap dari koperasi unit toko tersebut, sehingga  anggota menjadi loyal berbelanja di koperasi. “Kalau anggota sudah loyal, maka mayoritas kebutuhan anggota akan cari  di koperasi. Jangan sampai anggota sekadar saja berbelanja di koperasi, tapi dia malah berbelanja di tempat lain,” katanya. *pur

BAGIKAN