Era Milenial, BPR Wajib Tawarkan Layanan Digital

12

Denpasar (bisnisbali.com) – Perkembangan industri jasa keuangan saat ini tidak terlepas dari pengaruh teknologi informasi yang berkembang begitu pesatnya, baik dalam industri perbankan, pasar modal, maupun industri keuangan non-bank.

Direktur Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara, Rochman Pamungkas, Senin (30/9) mengatakan, bank perkreditan rakyat (BPR) harus memberikan kemudahan layanan digital kepada para nasabah dan BPR bisa berkolaborasi dengan fintech.

Ia mengungkapkan, kehidupan masyarakat sehari-hari sudah mengarah ke era milenial. Perubahan tersebut juga mulai jelas terasa seperti dengan adanya transportasi online, e-commerce atau belanja online. Masyarakat juga mulai terbiasa untuk melakukan pembayaran secara digital, termasuk pinjam meminjam uang secara online yang secara keseluruhan menggunakan aplikasi digital.

Ia memaparkan, saat ini masyarakat sedang memasuki era Revolusi Industri 4.0, yakni perubahan dunia industri dengan berbasis pada digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya.

Lebih lanjut dikatakannya, saat ini seseorang bisa mengakses layanan dari industri keuangan tanpa harus datang ke kantor industri keuangan. Bahkan, hanya dengan modal smartphone dan koneksi internet, seseorang bisa meminjam atau meminjamkan uang kepada orang yang terpisah dan jarak yang berjauhan.

Kemudahan-kemudahan akses terhadap layanan keuangan melalui teknologi informasi itulah yang disebut dengan financial technology (fintech). Fintech peer to peer landing merupakan salah satu industri yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan. Sampai dengan 13 Agustus 2019, telah terdapat 127 perusahaan penyelenggara fintech yang terdaftar dan diawasi oleh OJK, di mana 119 di antaranya adalah perusahaan fintech konvensional dan 8 perusahaan fintech Syariah. Sampai dengan Agustus 2019, akumulasi jumlah pinjaman fintech adalah sebesar Rp49,79 triliun yang mengalami peningkatan sebesar 119,69 persen (ytd). Ini dengan jumlah rekening lender sebanyak 518.640 entitas (meningkat 149,94 persen ytd) dan jumlah rekening borrower sebanyak 11.415.849 entitas (meningkat 161,86 persen ytd).

Menurut Rochman Pemungkas, untuk karakteristik pinjaman melalui fintech yang disalurkan, memiliki rata-rata nilai pinjaman terendah sebesar Rp24,1 juta dan rata-rata nilai pinjaman yang disalurkan adalah sebesar Rp85,4 juta.

Rochman Pamungkas menambahkan, dalam setiap kesempatan OJK selalu mengenalkan mengenai industri fintech bagi para pelaku UMKM maupun masyarakat luas yang mengalami kesulitan dalam permodalan. *kup

BAGIKAN