Embung Tanah Aron Mengering Warga Beli Air Mahal  

23
Pihak BPBD Karangasem memasok air bersih ke bak air milik  warga.

Amlapura (bisnisbali.com) – Embung atau penampung air hujan di Banjar Tanah Aron, Desa Buana Giri, Karangasem, sudah habis airnya atau mengering sejak sekitar seminggu lalu. Kini, warga setempat terpaksa membeli air bersih untuk MCK, memasak, mandi serta untuk minum ternak.

Hal itu disampaikan salah seorang warga Tanah Aron, Abud Wirawan, Kamis (26/9) di Karangasem.  Petani itu mengaku beternak sapi tiga ekor. Dia mengaku tak mampu beternak sapi dalam jumlah banyak, karena selalu tiap musim kemarau, dia dan ratusan KK petani lainnya yang tinggal di lereng Tenggara Gunung Agung itu, pasti mengalami krisis air bersih.

Dikatakan, pria empat anak itu, sebenarnya warga megandalkan embung di  Tanah Aron, lokasinya sekitar satu km naik dari Tugu Pahlawan Tanah Aron. Namun air di embung itu sudah habis dimanfaatkan warga Tanah Aron. Sebelum air di embung yang berasal dari air hujan musim hujan tahun lalu itu habis, warga di Tanah Aron belum membeli air bersih. Begitu habis, harus membeli air bersih.

Abud Wirawan sendiri, mengatakan, seminggu dia membeli air bersih 4 tower isi 1.000 liter dengan total harga Rp 250 ribu. ‘’Ada penjual air dari kampung kami melayani. Empat tower berisi air bersih yang diambil dari mata air di Ababi, diangkut dengan truk. Musim krisis air pada kemarau ini, sangat ramai truk lalu- lalang membawa tower berisi penuh air yang dijual kepada warga,’’ paparnya.

Karena air mahal, warga terpaksa mengirit menggunakan air. Air digunakan hanya untuk yang penting, seperti minum dan memasak,  minum ternak. Warga banyak yang jarang mandi, paling kalau bepergian ke luar desa, cukup cuci muka atau anak sekolah ada yang hanya cuci muka.

Abud Wirawan mengakui keterbatasan air bersih menjadi faktor pembatas perekonomian warga di Tanah Aron dan di desa-desa yang tandus atau krisis air bersih rutin pada musim kemarau.  ‘’Di desa kami cukup potensial pertanian. Kami menanam pisang, dan beternak sapi. Cuma air bersih pada musim kemarau harganya mahal,’’ ujar Abud.

Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD Karangasem Ida Ketut Arimbawa mengatakan, pihaknya rutin memasok air bersih, sesuai permohonan yang disampaikan warga. Air bersih dipasok ke Desa Ban, Kubu, Karangasem. Di desa tandus dan rutin krisis air bersih pada musim kemarau itu, untuk  20 KK warga Banjar Belong, dipasok 5.000 liter, serta 5.000 liter lainnya disumbangkan atas permohonan 20 KK warga Banjar Bonyoh, Desa Ban.

Senin (23/9) lalu, 10.000 liter air bersih dipasok untuk 30 KK warga Banjar Kedampal, Desa Datah. Di lereng timur Gunung Agung yang tandus itu, sebenarnya ada dua embung air hujan, yakni embung Datah 1 dan Datah2.  Namun air hujan di kedua embung besar itu, sudah habis. ‘’Selama 18 Juni –  20 September lalu, kami dari BPD tercatat sudah memasok 120 ribu liter air bersih. Dinas Sosial memasok 104 ribu liter, PMI Karangasem 95 ribu liter dan LSM 90 ribu liter. Total sumbangan air bersih yang sudah diserahkan 409 ribu liter,’’ tandas Arimbawa.  *bud

BAGIKAN