Pupuk Bibit Seni pada Generasi Milenial

23

Denpasar (bisnisbali.com) – Seni dan budaya Bali yang merupakan daya tarik pariwisata Bali, harus terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda. Bibit Seni pada Generasi Milenial ini harus terus dipupuk, sebagai upaya pelestarian seni dan budaya.

Generasi Milenial cenderung mengadopsi budaya luar dan melupakan budaya Bali. Katakan saja bahasa Bali, sangat jarang generasi milenial yang bisa berbahasa Bali. “Saya berharap generasi milenial atau untuk para yowana Bali ngiring sareng-sareng nangiang, basa aksara, sastra sane kasub tur keloktah yening nenten iraga para yowana bali ngawerdiang sapa sira malih? Tak terlepas sebagai wujud nyata mendukung program pemerintah Nangun Sad Kertji Loka Bali,”  tutur I Gede Sweta Getas, S.Pd., Guru SMP PGRI 1 Denpasar (Grissa).

Pembina pidato bahasa Bali Grissa, tersebut mengatakan, untuk mendorong generasi muda mencintai dan tertarik menggelutinya seni dan budaya Bali termasuk bahasa Bali di dalamnya adalah dengan menggelar berbagai ajang kompetisi atau lomba seperti halnya ‘Ajang Utsawa Bali Santhi’.

“Ajang sepertinya ini akan membuat siswa bersemangat untuk berkarya dan memperdalam kemampuannya. Saya berharap agar pelaksanaan kegiatan seperti ini terus berkelanjutan diselenggarakan, sebagai pembinaan kegiatan seperti ini untuk mewadahi bibit seni para generasi milenial, untuk terus meningkatkan dan menumbuhkembangkan warisan budaya yang adiluhung, sebagai taksuning jagat Bali,” tandas pria kelahiran Desa Antiga, Kecamatan Manggis, Karangasem tersebut.

Diungkapkan, ajang tersebut membuat para siswa di Grissa bersemangat untuk mempelajarinya seni budaya Bali, bahkan meraih sejumlah prestasi. “Saya merasa bangga dengan penampilan yang memukau siswa kami sehingga sejumlah siswa meraih prestasi. Kedepannya tentu mereka akan makin terpacu untuk mengikuti berbagai lomba di tingkat sekolah, desa bahkan provinsi,” pungkas pria jebolan IKIP PGRI Denpasar tersebut. *pur

BAGIKAN