Festival Jatiluwih 2019 Tampilkan Perpaduan Alam dan Budaya

16
GONG - Pembukaan festival ditandai dengan pemukulan gong oleh I Gede Pitana (man)

Tabanan (bisnisbali.com) – Diawali dengan tarian kolosal Rejang Kesari yang melibatkan 400 penari, Festival Jatiluwih 2019 secara resmi dibuka oleh Tenaga Ahli Menpar Bidang Pemasaran dan Kerjasama I Gede Pitana, di sebuah bukit areal persawahan Jatiluwih yang disebut D’Uma, Jatiluwih, Penebel, Jumat (20/9) kemarin. Pembukaan festival ditandai dengan pemukulan gong.

Kegiatan yang mengusung tema Sri Pahngayu Jagat yang berarti memuliakan Dewi Sri untuk dapat memberikan manfaat dan kesejahteraan pada masyarakat di kawasan itu, juga dihadiri Ketua DPRD Provinsi Bali, Pangdam IX Udayana, Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti, Wakil Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, Asisten I Setda Provinsi Bali, Ketua DPRD Tabanan, perwakilan bupati/wali kota se-Bali, Forkompinda Tabanan, Sekda Tabanan, instansi vertikal dan BUMD beserta OPD di lingkungan Pemkab Tabanan.


GONG – Pembukaan festival ditandai dengan pemukulan gong oleh I Gede Pitana (man)

Pada kesempatan tersebut, Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti atau yang akrab disapa Eka mengucapkan selamat datang kepada seluruh undangan yang hadir di kawasan Budaya Dunia Jatiluwih. “Semoga membawa kesan tersendiri, karena bapak dan ibu hadir di tengah hamparan pemandangan persawahan dengan tanaman padi yang sedang tumbuh dipagari gunung dan perbukitan,” ucap Bupati Eka.

Orang nomor satu di Tabanan itu mengungkapkan, keunikan alam ini menjadikan Jatiluwih ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia, dengan aktivitas budaya pertaniannya dalam wadah lembaga. Dengan begitu, sangat tepat Festival Jatiluwih ketiga ini mengusung tema Sri Pahngayu Jagat, yakni hakikat Dewi Sri dalam falsafah Hindu Bali adalah kuasa atas kelahiran dan kehidupan, representasi yang disimbolkan dengan padi.

“Kondisi alam ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan mancanegara. Wisatawan dapat langsung terlibat dalam aktivitas pertanian di DTW ini sehingga menjadi aset yang sangat berharga bagi para petani,” imbuh Bupati Eka.

Di samping itu, pengembangan kepariwisataan di kawasan ini dibangun dengan konsep pariwisata untuk petani, sehingga petani adalah aktor dari kegiatan pariwisata dan mendapat manfaat dari pariwisata. Festival ini sangat memotivasi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk sepakat bersama masyarakat Jatiluwih untuk menjaga alam dan budaya untuk dilestarikan.

Bupati Eka menambahkan, Festival Jatiluwih ini akan berlangsung sampai 22 September 2019 dengan menampilkan berbagai potensi pertanian, mulai dari produk olahan pertanian, sajian kuliner, aktivitas panen tradisional dan pengolahan lahan pertanian secara tradisional.

“Mari kita jadikan event ini sebagai wahana untuk upaya pelestarian, wahana peningkatan produktivitas berbagai sektor, wahana promosi memperkenalkan wilayah ini sebagai salah satu destinasi wisata menarik yang ada di Kabupaten Tabanan, wahana pemberdayaan dan mensejahterakan masyarakat,” jelas Bupati Eka.

Tidak lupa juga Bupati Eka atas nama Pemerintah Kabupaten Tabanan beserta seluruh masyarakat Tabanan, mohon kepada Menteri Pariwisata RI atau yang mewakili saat itu agar mempromosikan Festival Jatiluwih ini untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik ke Jatiluwih khususnya dan Tabanan pada umumnya sehingga terwujudnya masyarakat Tabanan yang sejahtera, aman dan berprestasi. *adv

BAGIKAN