Banyak pemerhati berharap suku bunga perbankan bisa rendah bahkan menjadi satu digit pada tahun-tahun mendatang. Itu karena suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI 7 day repo rate turun dan laju inflasi terkendali. Mungkinkah asa suku bunga perbankan rendah atau terwujud satu digit?


KISARAN suku bunga perbankan satu digit idealnya 5-7 persen dan ada yang memprediksi bunga deposito 5 persen atau satu persen di atas inflasi maupun BI 7-DRR. Sementara bank-bank di Asia Tenggara umumnya bunganya berkisar 5-6 persen. Untuk suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan tingkat bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) berkisar 7,5 persen untuk bank umum dan 10 persen untuk bank perkreditan rakyat (BPR).

Harapan suku bunga perbankan turun sebenarnya bukan datang ketika BI 7DRR tiga kali turun atau sejak Juli, Agustus dan September ini saja, namun sudah lama pemerintah, pelaku dunia usaha, pengamat ekonomi menginginkan suku bunga, terutama pinjaman, pada tingkat yang lebih rendah. Bunga acuan BI saat ini sudah menyentuh 5,25 persen atau turun 0,75 basis poin dibandingkan Januari-Juni 2019 di level 6 persen.

Harapan bunga rendah itu masuk akal kerena suku bunga di Indonesia adalah tertinggi dibandingkan negara-negara tetangga. Menjelang MEA khusus perbankan 2020 diharapkan dunia usaha dapat bersaing, sehingga ada harapan suku bunga rendah.

Harapan kini saat kali ketiga BI 7 DRR turun menjadi 5,25 persen bisa mempengaruhi turunnya suku bunga pinjaman. Perbankan masih menetapkan bunga deposito sekitar 7-8 persen karena nasabah juga menginginkan bunga yang tinggi. Deposito masih dipandang sebagai tempat paling aman dan memberikan imbal hasil yang baik. Karena itu, menurunkan bunga deposito mempunyai konsekuensi beralihnya dana masyarakat ke bentuk investasi lain yang memberikan imbal hasil lebih tinggi. Begitu pula perbankan pada umumnya menjaga pertumbuhan kredit agar NPL tidak lebih tinggi lagi.

Menyikapi kondisi ini pemerhati perbankan Viraguna Bagoes Oka mengatakan, suku bunga turun akan menguntungkan pengusaha/pebisnis karena akan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat baik di tingkat usaha korporasi maupun usaha menengah atau kecil.

“Usaha-usaha akan bisa bergulir karena suku bunga bank adalah sebagai cost of money bagi pebisnis atau komponen utama biaya faktor produksi,” katanya.

Mantan Kepala Perwakilan BI Bali ini mengatakan, di lain pihak harga saham akan bergerak naik karena para deposan tidak tertarik lagi untuk menempatkan deposito. Itu karena suku bunga turun dan beralih ke investasi saham perusahaan.

“Naik turun suku bunga bank berbanding terbalik dengan demand terhadap saham/investasi,” ujarnya.

Dengan suku bunga turun, peluang terbukanya lapangan-lapangan pekerjaan baru akan terbuka. Ini yang diharapkan pemerintah untak bisa mengatasi dan menekan masalah pengangguran/kemiskinan.

Keuntungan bagi bank dengan turunnya suku bunga harus bisa segera melakukan konsolidasi di sisi funding versus lending untuk jangka pendek. Existing portfolio kreditnya tidak bisa serta merta suku bunganya diturunkan karena sumber funding untuk pemberian kreditnya tersebut masih pakai hitungan/komponen biaya dengan suku bunga lama.

“Nasabah peminjam kredit bank (existing loan) tidak serta merta/otomatis bisa menikmati suku bunga yang baru,” ucapnya.

Bila suku bunga bank turun, ekonomi bisa tumbuh, selanjutnya pebisnis maju. Untuk pengembangan usaha selanjutnya bank juga akan bisa meningkatkan pelayanan sejalan tumbuhnya perekonomian karena permintaan kredit bank naik.

“Itu berarti tidak ada pihak yang dirugikan, kecuali kalau kreditnya macet, akan mengancam net interest margin (NIM) bank yang akan turun karena bank rugi akibat nasabah gagal bayar (kredit macet),” jelasnya.

Disinggung idealnya suku bunga kredit bank berapa persen, pria ramah ini mengatakan, idealnya 1 digit sehingga kemampuan ekonomi kerakyatatan dan ekonomi menengah (mikro) akan dapat tumbuh secara wajar dan berkesinambungan serta lapangan kerja terbuka.

Hal sama dikatakan pemerhati ekonomi Dr. Irawan. Kata dia, suku bunga rendah efektif menggerakkan perekonomian. Potensial mengurangi ekonomi berbiaya tinggi dan mendorong perekonomian menjadi lebih efisien, mampu mengubah perekonomian menjadi bergerak maju, bahkan bisa menjadikan suatu negara menjadi cikal bakal negara maju.

“Seperti kita melihat ke dunia luar utamanya negara-negara maju untuk menggerakkan dan memajukkan perekonomian menganut rezim suku bunga yang sangat rendah,” katanya.

Dengan suku bunga satu digit akan memberikan manfaat bagi banyak pihak, tidak saja dunia perbankan makin bergairah, dunia pasar modal pun akan makin berkembang maju secara lebih kondusif.

“Kini harapannya kondisi ekonomi global ikut membaik, perang dagang bisa terselesaikan, bunga The Fed turun dan ekonomi dalam negeri harus membaik pula,” paparnya. *dik

BAGIKAN