Kurangi Pemakaian Plastik Pengusaha Kuliner mulai Lirik Besek

13

Denpasar (bisnisbali.com) –Mendukung program pemerintah untuk mengurangi pemakaian plastik, berbagai terobosan dilakukan pengusaha kuliner. Upaya pengurangan penggunaan bahan berbahaya ini secara tidak langsung membantu perajin lokal yang sebelumnya mengalami kesulitan memasarkan hasil karyanya.

“Kita coba sedikit demi sedikit mengurangi penggunaan bahan bahan berbahaya seperti plastik, bukan karena takut denda atau terkena sanksi namun lebih pada dampak positif yang bisa kita ambil dari aturan yang sudah muai direalisasikan ini.

Sempat bingung mau ganti denga apa karena untuk kemasan tertentu misalnya kemasan mika atau seloform tentu tidak bisa diganti dengan daun. Akhirnya kita coba ganti kemasan dengan menggunakan besek yang biasanya digunakan untuk haturan, saat ini besek serupa tidak sulit untuk dijumpai dan ukuranpun sudah mulai beragam,” terang Putu Agus Adi Putra, owner rumah makan Nang Etonk Bali.
Yang lebih penting untuknya adalah selain semakin sehat dengan bahan alami ternyata para perajin ulatan besek yang kebanyakan telah berusia lanjut ini bisa terbantu dan meningkatkan perekonomian mereka, karenanya sebagai salah satu pengusaha kuliner lokal tentu menjadi kewajiban baginya untuk mematuhi peraturan sambil berbagi dengan pengerajin.

“Kami juga sudah mulai ajak teman teman pelaku kuliner lokal untuk bisa memanfaatkan besek ini sebagai kemasan makanan dalam jumlah besar atau keci, sekarang tinggal kita penjajagan untuk besek besek ukuran keci agar juga bisa tersedia, dengan bergabung antar pengusaha kuliner tentu jumlah permintaan besek akan makin banyak dan harga pun bisa kita sesuaikan,” ungkapnya.
Selain rumah makan Nang Etonk Bali, memanfaatkan besek sebagai kemasan atau paket makanan juga dilakukan warung Nasi Lawar Bali Tulen, yang berada di bilangan Jalan A.Yani Denpasar, beberapa jenis pesanan nasi hingga tumpengan juga sudah menggunakan besek sebagai tempatnya.

 “Ternyata dengan besek kemasan jadi makin unik dan cantik, ada nilai tradisional namun tetap mewah dan sehat, dan ternyata keunikan ini di respons oleh masyarakat umunya para pemesan. Hanya saja untuk ukuran tertentu memang masih sulit untuk mendapatkannya sehingga kita jadi harus menyambangi langsung pengerajinnya,” terang Bu Anggun, owner Nasi Lawar Bali Tulen.
Ditambahkannya aturan pembatasan penggunaan bahan berbahaya terutama plastik ini sebenarnya sangat bagus untuk kedepannya hanya saja untuk merubah seratus persen tentu akan sangat sulit, karena ada beberapa jenis tempat kemasan yang memang sulit di gantikan, dan kalaupun diganti dengan tempat yang permanen tentu akan berpengaruh terhadap harga, sehingga pihaknya juga mengharapkan ada solusi yang bisa menjadi pilihan, serta fleksibelitas untuk bisa beralih secara bertahap.

Dampak pengurangan penggunaan bahan berbahaya yang ternyata menjadi rezeki tersendiri bagi para perajin ulatan besek tentu diharapkan tidak serta merta menjadi ajang aji mumpung misalnya dengan menaikkan harga atau kualitas menurun karena permintaan yang membludak. Semua harus dijalankan bersamaan tanpa ada yang merasa dirugikan namun lebih pada kepentingan bersama yang memiiki nilai postif. *ita

BAGIKAN